Selasa, 06 September 2011

Suka Isap Jempol Bisa Bikin Gigi Anak Rusak

Kebiasaan mengisap jempol dilakukan hampir 80 persen balita. Anak yang mengisap jempol biasanya sebagai upaya menenangkan diri. Tapi hati-hati anak yang suka mengisap jempol terlalu lama bisa merusak giginya.

Bagi orangtua baru mungkin akan sedikit bersyukur, karena bayi akan berhenti menangis jika mulutnya mengisap jempol. Tapi tanpa disadari hal ini akan menjadi suatu kebiasaan hingga anak tersebut dewasa nanti.

Diperkirakan sekitar 80 persen bayi dan anak-anak suka menghisap jempol pada saat-saat tertentu. Mengisap jempol merupakan refleks normal yang terjadi pada anak-anak untuk menenangkan dirinya saat mengalami stres, yang pada intinya anak-anak tersebut mencari kenyaman dan rasa aman. Tidak sedikit anak-anak yang bisa mengatasi hal ini, namun ada juga yang tidak.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, Kamis (15/10/2009) ada dua faktor yang dapat mengindikasikan apakah mengisap jempol dapat merusak gigi atau tidak, yaitu faktor usia dan intensitasnya. Sebaiknya kebiasaan tersebut harus sudah bisa ditangani saat waktu tumbuhnya gigi permanen tiba yaitu sekitar usia 6 tahun.

Saat gigi susu sudah berganti dengan gigi permanen, potensi terjadinya kerusakan akan semakin besar sehingga bisa saja membutuhkan bantuan dokter gigi. Kerusakan yang ditimbulkan bisa berupa penyelarasan gigi yang tidak normal (malocclusion) serta kerusakan struktur langit-langit mulut. Ketika mengisap jempol akan membuat jempol mendorong gigi atas sehingga menjadi sedikit menjauh dari gigi yang lainnya, selain itu juga bisa menyebabkan anak menjadi cadel.

Intensitas mengisap jempol akan mempengaruhi tingkat kerusakan, jika intensitasnya kuat maka bisa menyebabkan kerusakan gigi yang permanen. Umumnya anak-anak ini melakukan hal tersebut pada saat lelah atau bosan.

Para ahli menyarankan sebaiknya memberikan dukungan positif pada anak-anak untuk tidak mengisap jempol, dan jangan memberikan dukungan negatif karena akan meningkatkan stres dan eksistensi anak tersebut untuk tetap mengisap. Serta dibutuhkan kesabaran dan waktu yang relatif tidak singkat.

Untuk membantu mengatasi anak yang mengisap jempol diperlukan terapi seperti memberikan sarung tangan kecil pada jari-jarinya terutama saat malam hari. Jika anak mengisap jempo karena cemas atau stres, berilah hiburan atau pelukan yang bisa memberikan rasa nyaman bagi anak.

Bayi Butuh Air 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa

Air merupakan salah satu kebutuhan setiap makhluk hidup. Tapi ternyata kebutuhan air untuk bayi sehat jumlahnya 5 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa.

"Kebutuhan air bayi itu 10-15 persen dari berat badannya, sedangkan orang dewasa kebutuhannya 2-4 persen dari berat badannya. Berarti bayi sehat membutuhkan air 5 kali lipat lebih banyak dari orang dewasa," ujar dr Sudung O Pardede, SpA(K) dalam acara konferensi pers Hydration and Health di Hotel Gran Sahid Jaya, Jumat (18/3/2011).

dr Sudung mengungkapkan jumlah kebutuhan air bayi yang paling banyak berdasarkan usianya adalah neonatus (0-28 hari), lalu diikuti oleh bayi (0-12 bulan), anak-anak (1-18 tahun) dan orang dewasa. Sedangkan jika bayi dilahirkan dengan berat badan rendah (BBLR) maka kebutuhan airnya akan meningkat lagi.

"Kecepatan sikus air pada bayi sangat tinggi, karena itu bayi dan anak cenderung rawan terhadap penyakit yang menimbulkan dehidrasi," ujar dokter yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum PP-IDAI (Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Perbedaan antara bayi dan anak dengan orang dewasa dalam hal cairan tubuh mencakup perbedaan komposisi, metabolisme dan derajat kematangan sistem pengaturan air serta elektrolitnya.

dr Sudung menuturkan secara klinik kebutuhan air pada bayi dan anak biasanya berdasarkan berat badan, salah satunya adalah menggunakan rumus Darrow yaitu:

  1. Anak dengan berat badan kurang dari 10 kg, maka kebutuhan airnya adalah 100 ml/kg berat badannya. Misalnya anak dengan berat badan 8 kg, maka kebutuhannya adalah 8 x 100 ml = 800 ml.
  2. Anak dengan berat badan antara 10-20 kg, maka kebutuhan airnya adalah 1.000 ml + 50 ml setiap kenaikan berat badan diatas 10 kg. Misalnya anak dengan berat badan 15 kg, maka kebutuhannya adalah 1.000 ml + (50 ml x 5) = 1.250 ml.
  3. Anak dengan berat badan lebih dari 20, maka kebutuhan airnya adalah 1.500 ml + 20 ml setiap kenaikan berat badan di atas 20 kg. Misalnya anak dengan berat badan 30 kg, maka kebutuhan airnya 1.500 ml + (20 ml x 10) = 1.700 ml.

Perhitungan kebutuhan air pada anak juga bisa berdasarkan luas permukaan tubuh dan jumlah cairan yang dikeluarkan oleh tubuh.

Asupan air yang cukup untuk anak dapat membantu meringankan gejala konstipasi, diare dan demam. Untuk bayi atau anak yang demam, maka setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celsius maka asupan air ditambah sebanyak 12 persen, sedangkan pada neonatus yang menjalani terapi sinar diperlukan penambahan air sebesar 20 ml/kg berat badan setiap harinya.

"Jika bayi atau anak mengalami dehidrasi maka gejala yang muncul adalah mudah rewel, air mata berkurang, bibir kering, mata cekung, minum seperti orang kehausan dan jika kulit ditekan maka butuh waktu lebih lama untuk kembali ke bentuk semula," imbuhnya.

Meski demikian beberapa bayi dan anak kadang susah jika disuruh minum air putih dan lebih memilih minuman lain yang berwarna atau memiliki rasa manis.

Untuk itu Dr dr Saptawati Bardosono, MSc memberikan tips agar anak mau minum air putih yaitu:

  1. Orangtua bisa memberikan air putih di dalam gelas yang dicampur dengan es batu.
  2. Orangtua juga bisa memberikan tambahan potongan-potongan buah dengan bentuk kecil yang lucu.
  3. Memberikan air putih di dalam botol dengan sedotan yang berwarna warni atau bentuk yang lucu.
 

Ukurlah Lingkar Kepala Bayi Secara Teratur

Orangtua kadang hanya memperhatikan berat dan tinggi badan bayi saja, padahal mengukur lingkar kepala secara teratur juga penting untuk mengetahui pertumbuhan otaknya.

"Mengukur lingkar kepala adalah hal yang penting, karena bisa melihat pertumbuhan otaknya setiap bulan," ujar dr Attila Dewanti, SpA dalam acara media edukasi 'Alergi Susu Sapi Bukan Penghalang Pertumbuhan Anak' di Hotel Gran Melia, Jakarta, Rabu (27/4/2011).

dr Attila menuturkan jika tidak ada peningkatan ukuran lingkar kepala bayi selama 2 bulan, berarti ada sesuatu yang tumbuhnya tidak sempurna di dalam tubuh. Hal ini karena semua pusat perkembangan ada di otak, mulai dari otak besar, otak kecil dan batang otak.

Pertumbuhan otak anak adalah proses yang sangat penting, dan diketahui periode tercepat pertumbuhan otak terjadi pada trimester 3 hingga usia 3 tahun. Kondisi ini juga termasuk periode rawan atau kritis karena hanya terjadi sekali dalam seumur hidup.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai tumbuh kembang otak yaitu:

  1. Rumit
  2. Terprogram secara genetik
  3. Mengikuti urutan yang teratur
  4. Urutannya tergantung waktu, kronologis sesuai usia
  5. Proses yang sudah terlewati tidak bisa diulang
  6. Adanya gangguan bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

"Karenanya kalau ada anak yang habis dirawat akibat meningitis atau ensefalitis, maka dia akan kembali seperti bayi dan pertumbuhan otaknya stop disitu," ujar dokter yang berpraktik di Brawijaya Women & Children Hospital.

dr Attila mencontohkan misal anak terkena meningitis usia 1 tahun maka perkembangan otaknya akan berhenti. Nanti setelah pengobatan dan terapinya selesai biasanya hingga 3 minggu sampai 1 bulan, berikan anak stimulasi yang tepat dan cepat untuk merecall spot-spot di otak yang sudah terbentuk sebelumnya.

Proses petumbuhan dan perkembangan otak bayi dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi dan juga lingkungan yang berupa stimulasi atau rangsangan. Beberapa nutrisi diketahui baik untuk otak seperti:

  1. DHA dan AA untuk tumbuh kembang otak yang optimal
  2. Zat besi untuk sirkulasi oksigen dan replikasi DNA
  3. Taurin untuk perkembangan retina dan otak
  4. Choline untuk proses pembelajaran dan ingatan
  5. Zinc untuk perkembangan sistem saraf pusat di otak

"Bagi ibu yang bekerja luangkan waktu minimal 1 jam saja untuk memberikan sentuhan dan belaian pada anak, mengajak berbicara atau bernyanyi. Karena stimulasi ini bisa meningkatkan kepercayaan diri sehingga nantinya anak tidak mudah terjerumus pada kenakalan remaja serta bisa membedakan hal yang baik dan buruk," ungkapnya.

Jadi setiap kali ibu melakukan pemeriksaan berat dan tinggi badan bayi atau imunisasi, jangan lupa agar mengukur lingkar kepalanya apakah ada perubahan atau tidak untuk mengetahui pertumbuhan otaknya.

10 Pertanyaan di Minggu Pertama Kelahiran Bayi

Orangtua seringkali banyak dikhawatirkan oleh kondisi kesehatan bayi yang baru dilahirkan. Tidak semua pertanyaan itu bisa dijawab sendiri tapi kadang harus berkonsultasi ke dokter. Apa saja permasalahan yang muncul di minggu pertama kelahiran bayi?

Pertanyaan yang paling sering diajukan orangtua pada minggu pertama kelahiran bayi seperti dikutip dari WbMD, Senin (25/7/2011).

1. Bagaimana saya bisa melindungi bayi saya dari sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)?
Cara terbaik untuk melindungi bayi dari SIDS adalah untuk selalu menempatkan dia tidur telentang. Tingkat kematian SIDS menurun secara signifikan sejak American Academy of Pediatrics meluncurkan kampanye 'Back to Sleep'. Tanyakan kepada dokter mengenai langkah-langkah lain yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko tersebut.

2. Apakah bayi langsung mengenali saya, dan apa yang harus saya lakukan jika ia tidak mengenali?
Banyak orangtua khawatir jika mereka tidak mendapatkan perhatian pada pandangan pertama ketika bayi mereka baru saja lahir. Cobalah bersabar hingga ikatan itu mulai terbentuk. Pada permulaannya memang tidak mudah untuk Anda atau bayi Anda dan akan memakan waktu cukup lama untuk mengenal satu sama lain.

3. Kapankah bayi saya harus menjalani pemeriksaan fisik pertama setelah meninggalkan rumah sakit? Apa yang akan terjadi saat pemeriksaan pertama?
Kebanyakan dokter menjadwalkan pemeriksaan pertama pada usia 2 minggu, terutama untuk bayi pertama. Tanyakan tentang vaksin dan tes skrining awal yang akan diterima bayi Anda. Semua bayi yang baru lahir harus diperiksa dan mulai mendapat imunisasi rutin pada usia 2 bulan.

4. Bagaimanakah seharusnya merawat tali pusar bayi dan area sunat?
Dokter Anda dapat memberikan petunjuk rinci untuk merawat tali pusar bayi dan area sunat. Dokter juga dapat menyaranka apa yang harus diperhatikan mengenai infeksi.

5. Seberapa lama bayi saya akan tertidur, dan bagaimana saya bisa tahu jika ia tidur terlalu banyak?
Bayi yang baru lahir banyak tidur selama hari-hari awal mereka. Dokter Anda akan dapat memberitahu apa yang normal dan apakah Anda harus membangunkan bayi untuk memberi makan.

6. Seberapa sering bayi harus diberi makan, dan bagaimana saya mengatasi permasalahan menyusui?
Tanyakan dokter Anda atau staf rumah sakit untuk nama-nama konsultan laktasi sekadar berjaga-jaga apabila Anda memiliki masalah menyusui. Seorang konsultan ASI yang memenuhi persyaratan perawatan bayi baru lahir akan membantu Anda dan bayi Anda untuk memulai menyusui.

ASI adalah makanan yang sempurna untuk bayi yang baru lahir selama setidaknya enam bulan pertama kehidupannya. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI terus menerus setidaknya selama 12 bulan, dan setelah itu selama yang diinginkan ibu dan bayi. Manfaatnya adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi melalui transfer antibodi ibu yang tidak bisa dilakukan oleh susu formula.

7. Seberapa sering bayi pergi ke kamar mandi, dan bagaimana saya bisa tahu jika ada masalah?
Dokter dapat memberitahu Anda apa masalah yang harus diperhatikan.

8. Kapan dan seberapa sering saya harus memandikan bayi saya?
Tanyakan dokter ketika Anda harus memandikan bayi Anda untuk pertama kalinya dan tentang kebersihan dasar bayi. Jangan berlebihan, bayi baru lahir tidak memiliki kesempatan untuk menjadi sangat kotor. Mandi terlalu banyak dapat membuat iritasi kulit lembut.

9. Bagaimana saya bisa tahu apakah bayi saya mengalami ikterus (bayi kuning)? Apakah ada kondisi kesehatan lainnya yang harus diwaspadai?
Banyak bayi baru lahir mengalami ikterus ringan karena hati mereka tidak sepenuhnya berkembang. Tanyakan kepada dokter Anda tentang ikterus dan kondisi kesehatan bayi baru lahir.

10. Kapan saya harus menghubungi dokter?
Cari tahu apa gejala atau perilaku bayi yang Anda anggap tidak wajar lalu hubungi dokter.

Bulan Kelahiran Bisa Tentukan Pekerjaan di Masa Depan?

Bulan kelahiran biasanya diingat seseorang untuk tahu ulang tahunnya. Tapi survei menunjukkan bahwa bulan kelahiran seorang bayi bisa menentukan profesi apa yang akan dimilikinya nanti.

Studi yang dilakukan oleh National Statistics menemukan bulan kelahiran tertentu bisa mempengaruhi pekerjaan yang dimiliki oleh bayi tersebut, hal ini karena bulan kelahiran mempengaruhi segala sesuatu mulai dari kecerdasan hingga panjangnya usia.

Dalam studi ini peneliti menemukan beberapa bulan kelahiran berpengaruh terahdap pekerjaan, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (6/9/2011) yaitu:
1. Anak yang lahir bulan Desember lebih mungkin menjadi dokter gigi
2. Anak yang lahir bulan Januari lebih sulit jadi dokter gigi tapi cenderung menjadi debt collector
3. Anak yang lahir bulan Februari kemungkinan besar menjadi seniman
4. Anak yang lahir bulan Maret lebih mungkin menjadi pilot
5. Anak yang lahir bulan April dan Mei memiliki pekerjaan yang lebih bervariasi
6. Anak yang lahir di bulan-bulan musim panas memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menjadi pemain sepakbola, dokter gigi atau dokter.

Hasil ini didapatkan berdasar analisis dari data sensus terakhir yang dilaporkan. Meski begitu peneliti belum bisa menentukan hubungan antara bulan kelahiran dengan pekerjaan, tapi peneliti hanya mengetahui hubungan antara bulan kelahiran dengan masalah kesehatan tertentu.

Jika dihubungkan dengan masalah kesehatan diketahui bayi yang lahir di musim semi lebih berisiko terkena skizofrenia, asma, penyakit Alzheimer dan autisme. Kondisi ini kemungkinan karena kurangnya paparan sinar matahari yang menjadi sumber vitamin D pada bulan-bulan pertama kelahirannya.

"Jika berhubungan dengan masalah penyakit, dasar ilmiahnya sudah jelas, tapi jika berbicara dengan astrologi hal tersebut sulit dibuktikan," ujar Russell Foster seorang ahli saraf dari Oxford University.

Bayi Rawan Kena Campak Sebelum Diimunisasi Pertama

Biasanya vaksin campak diberikan saat bayi hampir berusia 1 tahun. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bayi rentan terhadap penyakit campak saat berusia 2-3 bulan hingga mendapatkan imunisasi pertamanya, karena kekebalan tubuh yang didapat dari ibunya sudah berkurang.

Padahal bayi baru diberikan imunisasi campak pada usia 9-12 bulan.

Penelitian ini berdasarkan catatan medis dari 207 perempuan sehat dan bayinya di lima rumah sakit Belgia pada tahun 2006. Hasil penelitian ini sudah diterbitkan secara online pada 18 Mei 2010 dalam British Medical Journal (BMJ).

Berdasarkan penelitian ini diketahui perempuan yang telah tertular penyakit campak dalam kehidupannya menjadi lebih kebal dan bisa memberikan perlindungan lebih pada bayinya, dibandingkan dengan perempuan yang telah divaksinasi tapi belum pernah terkena penyakit ini.

Tapi perlindungan yang berasal dari ibu hanya berlangsung pada bulan pertama hingga ke empat untuk semua perempuan. Sekitar 95-99 persen bayi ini telah kehilangan komponen-komponen sistem kekebalan tubuhnya (antibodi). Hal ini tentu saja memicu bayi tersebut rentan terkena campak pada saat berusia 6 bulan.

"Temuan ini penting untuk melihat wabah baru dan ketapatan waktu dari pemberian dosis pertama vaksin campak atau vaksinasi pada anak di bawah usia 1 tahun," ujar Elke Leuridan dari Center for the Evaluation of Vaccination di Vaccine and Infectious Disease Institute, University of Antwerp, Belgia seperti dikutip dari HealthDay, Kamis (20/5/2010).

Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Paramyxovirus dan bisa berbahaya hingga menyebabkan kematian pada anak. Campak juga menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak-anak serta mengakibatkan ruam di sekitar kulit bayi. Penyakit ini juga bisa memicu timbulnya komplikasi pada anak.

Kebanyakan kasus kematian anak akibat campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit ini, dan lebih sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.

Komplikasi yang paling serius adalah kebutaan, infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak, diare dan dehidrasi berat, infeksi telinga dan infeksi saluran pernapasan seperti radang paru-paru.

Masa inkubasi dari virus ini antara saat terinfeksi dengan timbulnya gejala adalah sekitar 1-2 minggu. Biasanya 5 hari setelah terinfeksi mulai muncul ruam di kulit.

Seperti dikutip dari Netdoctor.co.uk, gejala yang timbul jika anak mengalami campak adalah

  1. Demam tinggi sekitar 39 derajat C
  2. Pilek
  3. Batuk
  4. Sakit tenggorokan
  5. Kelenjar getah bening yang membengkak
  6. Peka terhadap cahaya
  7. Muncul butiran seperti pasir di selaput lendir mulut
  8. Ruam disekitar telinga dan menyebar ke tubuh serta mata memerah (konjungtivitis).

Anak-anak yang terkena campak sebaiknya tidak pergi ke sekolah atau keluar rumah sebelum benar-benar sembuh, karena berisiko menularkan pada anak-anak lainnya.

Jika campak ini menyerang anak di bawah usia 1 tahun, maka dokter harus memberikan suntikan imunitas dalam waktu lima hari.

Bayi di Bawah 1 Tahun Jangan Diberi Madu

Madu adalah salah satu pemanis alami yang banyak disukai orang. Tapi para orangtua sebaiknya tidak memberikan madu pada bayi di bawah usia 1 tahun, karena berisiko terkena botulisme pada bayi.

Botulisme adalah salah satu jenis keracunan makanan yang dapat menyebabkan kematian.

Madu memang memiliki berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh seseorang, seperti untuk penambah stamina atau dipercaya memiliki sifat antimikroba.

Namun hal ini sepertinya tidak akan berlaku pada bayi yang belum genap berusia 1 tahun. Karena kemungkinan bukan manfaat tersebut yang didapatkan tapi bisa mengakibatkan botulisme pada bayi.

Seperti dikutip dari Pediatrics.about.com, Selasa (25/5/2010) bahwa bayi berusia di bawah 12 bulan memiliki risiko terkena botulisme jika mengonsumsi madu, sehingga sebaiknya dihindari.

Hal ini disebabkan spora dari bakteri Clostridium botulinum ini dapat ditemukan dalam madu alami, ketika madu tersebut masuk ke dalam tubuh dan dicerna oleh bayi maka spora dari bakteri ini akan melepaskan toksin yang dapat menyebabkan botulisme (keracunan).

Badan standar makanan (Food Standards Agency) Amerika Serikat merekomendasaikan sebaiknya memberikan madu setelah bayi berusia di atas 1 tahun, karena pada usia tersebut sistem pencernaannya sudah cukup matang untuk tidak membiarkan bakteri tersebut tumbuh di dalam tubuh.

Sedangkan saat usianya masih di bawah 1 tahun sistem pencernaannya belum matang sehingga rentan terhadap keracunan botulisme dari makanan.

Spora botulinum secara luas ditemukan pada beberapa pemanis lain seperti sirup mapel dan sirup jagung, namun memang lebih cenderung berada di dalam madu.

Karenanya orangtua harus memastikan setiap kandungan yang terdapat di dalam makanan olahan untuk bayinya, terutama yang belum di pasteurisasi (diolah dengan cara pemanasan).

Botulisme pada bayi bisa mematikan jika tidak terdeteksi sejak dini, hal ini karena sifat menyebar yang dimiliki oleh toksin tersebut.

Orangtua sebaiknya mengenali tanda-tanda dari botulisme pada bayi, yaitu:

  1. Biasanya diawali dengan sembelit atau susah buang air besar.
  2. Mengalami kelemahan otot akibat adanya kerusakan sistem saraf.
  3. Bayi akan menangis dan lama kelamaan akan menjadi lebih lemah.
  4. Bayi akan mengalami kesulitan makan dan menelan.
  5. Kelemahan yang dialami bayi akan membuatnya menjadi lesu.

Bayi memiliki risiko lebih besar pada enam bulan pertama kehidupannya, karena itu orangtua harus mencatat setiap kesehatan dan perubahan yang terjadi pada bayinya.

Orangtua sebaiknya menjaga kebersihan dan mengelola makanan yang akan dikonsumsi oleh bayi dengan teliti, serta dianjurkan untuk lebih menahan diri saat memberikan makanan pada bayinya terutama makanan yang terlalu manis.

Cara Mengukur Suhu Anak Saat Demam

Demam merupakan suatu kondisi yang sering terjadi pada bayi atau anak di bawah usia 5 tahun, dan hal ini seringkali membuat orangtua menjadi panik. Karena itu ketahui cara mengukur temperatur demam pada anak.

Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi atau masuknya zat asing ke dalam tubuh. Karenanya demam bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit. Dengan adanya demam, maka tubuh diberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh.

Pada umumnya bayi atau anak yang mengalami demam, merupakan respons normal terhadap berbagai penyakit. Namun orangtua tetap harus mengukur suhu tubuh anaknya secara berkala untuk memastikan apakah si kecil membutuhkan pertolongan lebih lanjut atau tidak.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah sebaiknya orangtua tidak mengukur suhu tubuh melalui kepala anak, karena hingga usia 5 tahun suhu di kepala anak akan selalu lebih hangat dibandingkan dengan suhu tubuhnya. Selain itu orangtua sebaiknya tidak menggunakan tangan untuk mengukur suhu tubuh, tapi lebih baik menggunakan termometer.

Seperti dikutip dari Kidshealth, Selasa (1/6/2010) terdapat beberapa nilai yang berlaku umum dalam menentukan anak demam atau tidak.

Anak dikatakan demam jika temperatur diukur melalui rektal (dubur) lebih dari 38 derajat celsius, melalui oral lebih dari 37,5 derajat celsius serta melalui ketiak lebih dari 37,5 derajat celsius.

Terdapat berbagai cara untuk mengukur suhu tubuh dan cara terbaik untuk melakukannya tergantung dari beberapa faktor. Meski demikian suhu yang paling akurat adalah pengukuran melalui rektal.

Tapi beberapa orangtua terkadang tidak tega untuk melakukannya dan takut terlalu dalam memasukkan termometer. Karenanya ada beberapa teknik yang bisa dilakukan, yaitu:

Mengukur suhu lewat rektal (dubur)
Anak atau bayi sebaiknya dibaringkan di pangkuan ibu atau orang dewasa, lalu oleskan vaseline pada ujung termometer. Secara perlahan masukkan termometer ke dalam anus anak sampai ujung perak termometer tidak terlihat (1/4 (0,5 cm) atau 1/2 inci (1,27 cm) di dalam anus). Pegang termometer lalu tunggu selama 1-2 menit.

Mengukur suhu lewat oral (mulut)
Sebelum digunakan sebaiknya membersihkan termometer dengan air dngin dan sabun lalu bilas dengan air. Setelah itu letakkan ujung termometer di bawah lidah anak ke arah belakang dan tahan termometer dengan bibir anak. Usahakan untuk menjaga agar bibir tetap tertutup dan tunggu hingga sekitar 3 menit.

Mengukur suhu ketiak
Saat digunakan pastikan bahwa ujung termometer menyentuh kulit anak lalu letakkan ujung termometer di ketiak anak yang kering. Tahan posisi termometer dengan menggunakan lengan anak dan tunggu selama 4-5 menit.

Usahakan untuk melakukan pengulangan setiap mengukur suhu tubuh setidaknya dua kali. Jika anak memang demam, maka ukurlah suhunya secara berkala setiap 4-6 jam dan segera bawa ke dokter jika suhu tubuhnya terus meningkat terutama jika melebihi 40 derajat celsius.

Hal terpenting yang harus dilakukan orangtua adalah jangan panik dan usahakan tetap tenang jika anaknya demam, karena hal ini bisa berisiko overdosis dalam pemberian obat atau penanganan yang kurang tepat.

Batuk Bandel Bisa Jadi Gejala Asma Pada Anak

Gejala asma tidak melulu napas sesak atau berbunyi ngik-ngik. Orangtua dan guru di sekolah harus jeli mengenali gejala asma pada anak, karena batuk yang membandel juga merupakan gejala asma.

Hal ini disampaikan oleh Dr Darmawan Budi Setyanto, SpA(K), dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia Suddhaprana & Pusat Asma Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam acara seminar sehari bertajuk 'Peran Guru dalam Pengendalian Asma pada Anak Sekolah' di Aula FKUI, Jakarta, Kamis (3/6/2010).

Asma merupakan penyakit kronik (menahun) pada bronkus (saluran napas bawah), dengan gejala yang timbul berulang secara akut (mendadak) dan terjadi berulang-ulang. Asma juga merupakan salah satu penyakit turunan dan diketahui bahwa faktor ibu lebih kuat untuk menurunkan asma pada anak.

Menurut Dr Darmawan, asma pada anak tidak selalu memberi gejala sesak dan napas berbunyi ngik-ngik (mengi) seperti pada pasien dewasa. Seringkali gejala yang menonjol hanya batuk saja, tapi bukan batuk sembarang batuk, melainkan batuk yang membandel.

Pengertian batuk 'bandel' mencakup beberapa keadaan yang mirip, yaitu:
  1. Batuk yang berlangsung lama, biasanya lebih dari 2 minggu
  2. Sulit sembuhnya
  3. Membaik sebentar kemudian kambuh lagi
  4. Timbul berulang dalam selang waktu pendek

Batuk pada anak asma akan timbul jika si anak terpapar dengan faktor pencetus, yang dapat berupa:
  1. Lingkungan rumah, seperti debu rumah, asap rokok, kapuk, atau bulu binatang
  2. Makanan, seperti es, permen, coklat, kacang tanah, gorengan, snack gurih yang mengandung vetsin atau MSG
  3. Faktor lain seperti selesma (infeksi saluran napas akut), aktivitas fisik berlebihan, kelelahan atau perubahan cuaca

"Batuk asma memiliki ciri lain, yaitu lebih berat pada malam hari atau dini hari, atau pada saat bangun tidur," ujar dokter speasialis anak yang juga ahli paru RSCM.

Dr Darmawan menambahkan, terkadang perbedaan intensitas batuk antara siang dan malam hari demikina ekstrim. Akibatnya, pada anak yang telah bersekolah akan mengantuk di sekolah atau bahkan bolos, dan orangtuanya mengantuk saat bekerja di kantor.

Inilah yang biasanya membuat prestasi anak asma menurun. Tapi gejala asma yang berat serta dampaknya terhadap prestasi di sekolah bisa diatasi, bila gejala asma pada anak dapat dikenali dengan baik serta penghindaran terhadap faktor pencetusnya.

Gejala lain asma pada anak yaitu:
  1. Batuk berdahak, berulang, lama
  2. Napas bunyi ngik-ngik
  3. Napas cepat dan sesak
  4. Sakit dada
  5. Susah berkata-kata
  6. Biru di sekitar mulut

10 Vaksin yang Dibutuhkan Balita


Ancaman kuman dan virus yang semakin merajalela membuat tubuh balita rentan terkena penyakit. Balita memang mempunyai kekebalan tubuh alami, tapi kekebalan tubuhnya itu terkadang tidak mampu melindunginya dari ancaman kuman yang mematikan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 10 vaksin yang dibutuhkan balita. Tetapi tidak semua vaksin ini wajib diberikan tergantung kondisinya.

Seperti dilansir Health, Rabu (9/3/2011) ke-12 vaksin yang diperlukan balita baik yang wajib maupun tidak adalah sebagai berikut:

1. Hepatitis B
Vaksin ini wajib diberikan ke balita bahkan sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Vaksin ini diberikan 12 jam setelah bayi lahir. Vaksin ini diberikan sebanyak 3 kali.

  1. Pertama adalah 12 jam setelah lahir
  2. Kedua, 1-2 bulan dari vaksin yang pertama harus diberikan lagi
  3. Ketiga, 6-18 bulan setelah vaksin yang kedua.

Vaksin ini melindungi bayi dari virus hepatitis B yang sulit disembuhkan yang mana balita bisa terkena dari ibu yang mengidap hepatitis selama proses persalinan.

Virus ini menyebar melalui kontak darah atau cairan tubuh lain. Efek samping setelah divaksin ini adalah demam ringan. Menurut Gabrielle Gold-von Simson, MD, asisten profesor pediatri di NYU Langone Medical Center di New York, demam ringan adalah gejala yang paling umum dialami balita.

2. DPT atau DTP
Vaksin ini wajib diberikan yang merupakan campuran dari tiga vaksin yaitu untuk mencegah penyakit difteri (yang menyerang tenggorokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menimbulkan kejang-kejang).

Vaksin ini diberikan sebanyak 5 kali dan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Ulangan DTP diberikan umur 18 bulan dan 5 tahun. Untuk penguatannya bisa dilakukan pada anak umur 12 tahun dan kemudian dilakukan lagi setiap 10 tahun.

"Vaksin DPT bisa diberikan bersamaan dengan hepatitis dan polio," kata Dr Emas-von Simson.

3. Polio
Vakin ini di Indonesia wajib diberikan karena ancaman polio yang masih ada. Vaksin ini untuk menangkal kelumpuhan akibat virus polio. Vaksin olio pertama diberikan setelah lahir. Kemudian vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini bisa diulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

4. BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Vaksin ini wajib diberikan yang gunanya mencegah penyakit
http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=986&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a9f2d374
TB (Tuberkulosis). Vaksin BCG bisa 80 persen efektif mencegah TBC selama jangka waktu 15 tahun. Imunisasi BCG hanya dilakukan sekali yakni ketika bayi berusia 0-11 bulan. Tapi kebanyakan diberikan saat bayi berusia di bawah 2 bulan.

5. Vaksin Campak, Gondong dan Rubela (MMR)
Vaksin MMR melindungi anak dari tiga virus: campak (yang menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh-lebar), gondong (yang menyebabkan rasa sakit wajah, pembengkakan kelenjar liur, dan kadang-kadang pembengkakan skrotum pada laki-laki), dan rubella atau campak Jerman (yang dapat menyebabkan kecacatan lahir jika infeksi terjadi selama kehamilan).

Vaksin ini pertama diberikan pada anak saat usia 12 hingga 15 bulan dan pada usia antara 4 dan 6 tahun.

6. Cacar air

Cacar air adalah ruam yang sangat menular yang disebabkan oleh virus varicella. Infeksi cacar air dapat sangat berbahaya dan pada orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan atau tidak divaksin di masa kecil dapat menyebabkan herpes zoster.

Pemberian kepada anak-anak dilakukan pada usia 12 sampai 15 bulan dan kemudian dilakukan lagi pada usia antara 4 dan 6 tahun.

Efek samping pemberian vaksin ini menyebabkan rasa sakit dan bekas di tempat suntikan, demam atau ruam ringan.

Keenam vaksin tersebut oleh dokter di Indonesia biasanya wajib diberikan. Namun selain 6 vaksin itu ada juga vaksin lain yang kadang diberikan ke balita sesuai kondisi.

7. Vaksin Hib tipe B (Haemophilus influenza)

"Haemophilus influenza tipe b adalah bakteri yang menyebabkan meningitis," kata Dr Emas-von Simson. Meningitis adalah penyakit peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang yang sangat berbahaya untuk anak-anak di bawah usia 5.

Vaksin Hib umumnya diberikan pada anak usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan. Efek sampingnya antara lain demam, bengkak, dan kemerahan di lokasi suntikan.

8. Vaksin Pneumococcal konjugasi (PCV)

Vaksin ini dikenal sebagai PCV13 (nama merek Prevnar), melindungi terhadap 13 jenis Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan segala macam penyakit termasuk meningitis, pneumonia, infeksi telinga, infeksi darah, dan bahkan kematian.

Vaksin ini diberikan sebanyak empat kali pada anak usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan untuk melindungi anak dari kuman yang dikenal sebagai bakteri pneumokokus.

Efek samping yang paling umum dari pemberian vaksin ini adalah mengantuk, bengkak di tempat suntikan, demam ringan, dan mudah emosi.

9. Vaksin Influenza (flu)
Pemberian vaksin ini terutama dilakukan di negara-negara 4 musim yang dilakukan setiap tahun dimulai pada musim gugur.

Centers for Disease Control and Prevention AS atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan pemberian vaksin ini untuk anak-anak usia 6 bulan atau lebih.

Efek samping yang umum dari vaksin ini adalah rasa sakit, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan. Bisa juga mengalami demam dan nyeri.

"Tapi jika anak Anda memiliki alergi telur maka tidak harus dilakukan vaksinasi influenza," kata Dr Emas-von Simson.

9. Vaksin Rotavirus (RV)

Vaksin Rotavirus (RV) dengan merek seperti RotaTeq, Rotarix diberikan kepada anak-anak usia 2 dan 4 bulan. RotaTeq juga diberikan pada anak usia 6 bulan. Vaksin ini melindungi anak terkena diare parah serta muntah-muntah yang banyak terjadi pada anak-anak di seluruh dunia.

Vaksin ini berbentuk cairan dan diberikan melalui mulut bayi. Efek sampingnya anak gampang emosi, diare ringan atau muntah-muntah.

10. Vaksin Hepatitis A
Di Indonesia, balita jarang diberikan vaksin hepatitis A tapi langsung hepatitis B karena lebih berbahaya hepatitis B.

Anak-anak gampang tertular hepatitis A dari makanan atau minuman. Ini adalah infeksi virus yang mempengaruhi hati, dan dapat menyebabkan sejumlah gejala, termasuk demam, kelelahan, sakit kuning, dan kehilangan nafsu makan.

Pemberian vaksin ini diberikan pada anak-anak usia 12 sampai 23 bulan. Efek sampingnya rasa sakit di tempat suntikan, sakit kepala dan hilangnya nafsu makan sementara.