Senin, 27 Desember 2010

Aberdeenshire

Aberdeenshire, merupakan daerah maritim seluas 1.971 mil persegi di Skotlandia Timur laut, ibukota Aberdeen. Mata pencaharian utama penduduknya adalah pertanian, penangkapan ikan dan peternakan. Di Braemar terdapat istana raja Inggris yang bernama Istana Balmoral.

Aberdeenshire

Aberdeenshire, merupakan daerah maritim seluas 1.971 mil persegi di Skotlandia Timur laut, ibukota Aberdeen. Mata pencaharian utama penduduknya adalah pertanian, penangkapan ikan dan peternakan. Di Braemar terdapat istana raja Inggris yang bernama Istana Balmoral.

Rabu, 01 Desember 2010

Abaddon

Abaddon dalam Bahasa Ibrani berarti kerusakan, merupakan nama Malaikat pengrusak dalam bahasa Ibrani

Abaddon

Abaddon dalam Bahasa Ibrani berarti kerusakan, merupakan nama Malaikat pengrusak dalam bahasa Ibrani

Senin, 29 November 2010

Batu Dashka

Cerita Misteri Batu Dashka. Sebuah Oopart (Out Of Place ARTifact / Artifak yang tidak pada tempatnya) adalah suatu istilah yang diberikan pada lusinan obyek prasejarah yang ditemukan pada berbagai tempat di seluruh dunia dengan tingkat teknologi yang sepenuhnya berbeda dengan penentuan usianya bila didasarkan secara fisik, kimia dan atau dengan bukti geologinya.
Artifak yang tidak pada tempatnya itu seringkali membuat frustasi para ilmuwan konvensional dan merupakan sesuatu yang menggembirakan bagi para penyelidik petualang dan individu-individu yang tertarik pada teori ilmiah alternatif.
Di pegunungan Ural,Siberia, sebuah lempengan batu hampir seberat satu ton ditemukan oleh Alexandr Chuvyrov, seorang profesor fisika dan matematika dari universitas Negara Bagian Bashkir. Lempengan tiga lapis itu mengandung suatu keistimewaan yang secara topografi (peta bumi) mirip dengan geografi unik dari area spesifik pada pegunungan Ural.
Lapisan paling permukaannya mengandung suatu lapisan tipis kalsium porselen yang berfungsi sebagai suatu tutup pelindung terhadap keausan bagi struktur lapisan yang ada di bawahnya.
Dasar peta itu terbuat dari suatu lapisan dolomit setebal 5,5 inch dan suatu lapisan dalam yang mana mewakili peta yang sebenarnya, mengandung diopsida (mineral silikat yang berwarna hijau muda sampai putih yang banyak terdapat pada batu yang telah mengalami transformasi oleh panas maupun tekanan dan pengerasan yang berasal dari lava atau magma), dengan kekerasan mineralnya 6 skala Mohs (skala kekerasan yang digunakan dalam menglasifikasikan mineral).
Dari hasil uji radiografis, para peneliti percaya bahwa lapisan diopsida, pada mulanya diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun, namun adalah tidak mungkin untuk memahatnya tanpa bantuan teknik ukir modern.
Barangkali segi yang paling menakjubkan dari peta relief (gambar timbul) misterius ini adalah bahwa dari pengujian yang dipergunakan untuk mengetahui usia batu kuno itu, ditetapkan usianya sekitar 120 juta tahun. Beberapa ahli geologi setuju bahwa peta itu mewakili daerah Ural yang dikenal sebagai Bashkiria, yang belum berubah banyak selama beberapa juta tahun.
Daerah geografis spesifik yang teridentifikasi pada lempengan batu itu terutama semata-semata diwakili oleh daerah patahan Ufa besar. Demikian juga, peta misterius itu menggambarkan kekayaan hydrografi dari daerah tersebut, termasuk sungai Ufimka dan Sutolka.
Walaupun lempengan batu itu menampakkan suatu kesamaan yang besar dengan daerah yang digambarkan itu, tetapi ia juga memiliki perbedaan-perbedaan yang menyolok. Bagi para analis, yang mengherankan dari Batu Dashka itu terletak pada sistem teknik irigasinya yang luas sekali, yang mana meliputi sistem dua kanal dan 12 dam yang seandainya dibuat skala yang sebenarnya akan terukur punya kedalaman hampir 2 mil.
Menurut lempengan ini, daerah Sungai Belaya nampaknya lebih menyerupai suatu karya sistem keahlian teknik daripada suatu bentuk yang alamiah.
Suatu grup peneliti termasuk Profesor Chuvyrov percaya bahwa peta itu bisa saja merupakan suatu penggalan dari sebuah peta yang lebih besar yang menunjukkan lebih banyak pegunungan. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa lempengan ini hanya merupakan patahan ujung kecil dari bongkahan es dari keseluruhan skala peta bumi.
Segi lain yang menarik pada lempengan batu ini adalah ukiran samar-samar yang tampak pada satu sisi dari batu itu. Pada mulanya hal ini dipercaya sebagai wajah dari orangTiongkok kuno, sedangkan pola gambar seperti huruf masih belum dapat dipecahkan artinya.
Menurut surat kabar Rusia, Pravda, perburuan Batu Dashka dimulai dengan referensi dari para ahli arkeologi pada abad ke-18, yang melaporkan telah menemukan sekitar 200 lempengan batu di daerah tersebut. Profesor Chuvyrov dan koleganya sedang mencari apa yang mereka perkirakan, sebagai bukti tibanya imigran Tiongkok di Pegunungan Ural.
Ketika mantan ketua dewan agrikultur setempat Vladimir Krainov mendengar penyelidikan Chuvyrov, ia memberitahunya tentang sebuah lempengan aneh yang pernah ia lihat terkubur di bawah serambinya. Chuvyrov kemudian harus merekrut beberapa penduduk lokal untuk membantunya menggali batu raksasa tersebut.
Menurut Pusat Peta Sejarah di Wisconsin, Batu Dashka (nama cucu perempuan yang penemunya) hanya dapat dibuat dengan bantuan penglihatan dari udara. Penelitian untuk membuktikan keaslian peta batu itu masih dikerjakan melalui bantuan foto-foto satelit yang diperkirakan selesai pada 2010.
Jadi siapa yang membuat sebuah peta relief yang akurat seperti itu pada 100 juta tahun lebih yang lalu? Dan informasi lain apa yang terkandung dalam karakter-karakter asing yang ditemukan terukir di sisinya? Walaupun Batu Dashka menyajikan teka-teki membingungkan yang masih menunggu untuk dijawab, namun demikian batu itu bertahan sebagai suatu reproduksi yang persis dengan suatu daerah di Pegunungan Siberia.

Batu Krobu

Cerita Misteri Batu Krobu Diyakini Bisa Kabulkan Keinginan. Keberadaan BatuKrobu di Desa Sumberkare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo hingga kini masih menjadi mitos yang disakralkan masyarakat setempat. Mereka menilai batusebesar rumah yang berada di tanah tegal milik Sutali (40) itu mempunyai sejarah turun temurun.
Cerita Misteri Batu Krobu Diyakini Bisa Kabulkan Keinginan
“Batu itu ada sejak zaman Belanda dulu,” kata Sutali
Menurutnya, batu itu tak hanya mempunyai nilai sejarah. Tapi oleh masyarakat sekitar juga dianggap mempunyai kekuatan yang bisa mengabulkan keinginan seseorang. Tak heran, jika setiap malan Jumat legi, banyak warga yang berdatangan membuat sesajen di sekitar batu.
“Banyak orang yang melakukan tirakat di batu itu. Ada yang minta gegaman, ada juga orang datang ke tempat batu itu agar keinginannya bisa tercapai,” katanya.
Benarkah? Menurut pengakuan Sutali yang sehari-harinya bercocok tanam tembakau itu, jika warga yang datang tak hanya dari warga setempat. Melainkan banyak yang berasal dari luar daerah.
“Tujuan mereka agar keinginan mereka terkabul. Hanya itu,” tambahnya.

April Mop

Sejarah April Mop
Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.
Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.

Minggu, 28 November 2010

Objek aneh di atas Jakarta tertangkap kamera astronot NASA

Ini bunyi emailnya:

"Kemarin saya browsing di: 
http://eol.jsc.nasa.gov. Disitu terdapat beberapa gambar image satelit diatas kota jakarta. Screenshootnya saya lampirkan. Apakah gambar ini adalah UFO? Minta tolong diselidiki untuk mengobati rasa penasaran saya. Terima kasih banyak."

Kode foto - ISS020 E 011200

Notes: jika kalian mengklik link yang saya sediakan di atas, kalian perlu mencentang "Show thumbnails if they are available" di atas daftar foto.

Apakah identitas objek yang terlihat di foto itu?

Sebelum kita membahas itu, mari kita lihat sekilas mengenai situs yang dimaksud oleh Yohanes.

Perlu diketahui, situs tersebut adalah situs milik NASA sendiri, yaitu:http://eol.jsc.nasa.gov/.

Huruf GOV di belakang situs menunjukkan kalau situs tersebut adalah milik pemerintah Amerika. Sedangkan huruf JSC pada alamat situs tersebut adalah singkatan dari Johnson Space Center, pangkalan milik NASA di Houston, Texas.

Judul situs tersebut adalah The Gateway to Astronaut Photography. Situs ini ternyata berisi kumpulan foto-foto yang diambil oleh para astronot dari stasiun luar angkasa ISS.

Nah, pada halaman web yang berisi daftar foto-foto wilayah Indonesia, kita hanya menemukan satu foto yang menunjukkan objek misterius tersebut. Dan foto ini adalah foto yang ditanyakan oleh Yohanes.


Jika kita klik foto tersebut, maka akan muncul halaman web yang berisi keterangan mengenainya. Anehnya, tidak ada penjelasan apapun dari NASAmengenai objek misterius tersebut. Entahkah mereka tidak peduli, atau hanya sekedar malas menjelaskan.

Berdasarkan keterangan yang menyertai foto ini, disebutkan kalau foto ini diambil di atas wilayah barat laut Jakarta. Di halaman web tersebut juga ditemukan file google earth (kml). Jika kita mendownload file tersebut dan menggunakan google earth untuk melihat lokasi yang sama, maka kita tidak akan menemukan objek tersebut.


Jadi, kita bisa menyimpulkan kalau objek tersebut hanya muncul pada foto yang berasal dari kamera astronot Internasional Space Station (ISS).

Sekarang kembali kepada pertanyaan Yohanes, apakah identitas objek yang tertangkap oleh kamera itu?

Ketika saya melihat foto itu, maka saya segera teringat dengan sebuah jamur. Mungkinkah objek itu sebuah jamur super jenis baru yang bisa terbang melayang di ruang angkasa? Atau mungkinkah objek itu sebuah pesawat alienberbentuk jamur yang sedang mengawasi kota Jakarta?

Saya tidak yakin soal ini.

Saya juga tidak yakin kalau objek itu muncul akibat kerusakan kamera.

Namun, saya akui, saya tidak memiliki jawaban yang pasti.

Satu hal yang segera menarik perhatian saya adalah kondisi objek tersebut yang kabur (blur). Ciri-ciri ini menunjukkan kalau objek tersebut berada sangat dekat dengan kamera, bahkan mungkin persis di hadapan kamera. Kalian yang suka dengan fotografi pasti memiliki pendapat yang sama dengan saya.

Tetapi, saya punya ide yang lebih baik dibandingkan hanya sekedar berspekulasi. Saya memutuskan untuk langsung bertanya kepada NASA. Kemudian saya mengirim sebuah email kepada Johnson Space Center di jsc-earthweb@mail.nasa.gov. Saya menanyakan identitas objek tersebut.

Kurang dari 24 jam kemudian, saya mendapat email balasan dari mereka (very good public relation). Ini bunyi email jawabannya:

Thank you for your message. The blurred object is something in the ISS crew cabin - unfortunately, I can't tell what it might be - that happened to be in the field of view when the image was taken. The situation is much like a photographer's finger accidentally moving across the camera lens when a picture is taken, leaving a blurry object in the frame. Thank you for your interest in astronaut photography of Earth!


Earthweb
The Gateway to Astronaut Photography of Earth
NASA Johnson Space Center
http://eol.jsc.nasa.gov
Terjemahannya kurang lebih seperti ini:

Terima kasih untuk pesanmu. Objek kabur itu adalah sesuatu yang ada di dalam kabin kru ISS - Sayangnya, saya tidak tahu objek apa itu. Ini (tertangkapnya objek itu) bisa terjadi karena objek itu masuk ke dalam jangkauan kamera ketika citra itu diambil. Situasinya kurang lebih sama seperti jari seorang fotografer yang tanpa sengaja bergerak melewati lensa kamera ketika sebuah foto diambil sehingga menyebabkan adanya objek kabur di dalam foto.

Terima kasih untuk ketertarikanmu atas astronaut photography of earth.
Sebenarnya ini bukan jawaban yang saya harapkan. Tetapi jawaban ini cukup masuk akal. Coba lihat bagaimana para astronot mengambil foto tersebut (foto-foto ini ada di situs mereka):


Awalnya, saya mengira kalau foto-foto bumi itu diambil dengan kamera super canggih yang terpasang pada ISS. Namun, ternyata para astronot mengambil foto ini dengan manual menggunakan kamera biasa (dalam kasus foto kita, mereka menggunakan Nikon D2Xs). Ini yang dimaksud oleh email NASA ketika ia mengatakan kalau objek tersebut berasal dari kabin para astronot. Ternyata para astronot memang memotret dari kabin mereka.

Lihat, tubuh mereka melayang ketika sedang memotret.


Jadi, kemungkinan sebuah benda dari kabin itu melayang dan masuk ke dalam jangkauan kamera ketika foto diambil. Cukup masuk akal.

Lagipula, kalau objek tersebut adalah pesawat alien yang tertangkap kamera, bukankah NASA akan memphotoshop foto tersebut terlebih dahulu sebelum dipajang di situs mereka? (Just kidding).

Mungkin yang bisa menjawab identitas objek tersebut hanya astronot yang mengambil foto itu. Tetapi paling tidak objek itu bukan sebuah misteri lagi. Bagi saya, satu-satunya misterinya adalah ketidakpedulian NASA dengan memasang foto "rusak" itu di situs mereka.

Penampakan naga Parangtritis?

Penampakan objek yang mirip dengan badan ular di langit pantai Parangtritis.



Salam sejahtera...


Saya mendapat kiriman foto di account FB. Foto ini sangat menarik dan diasumsikan sebagai penampakan naga tunggangan nyi Roro Kidul karena kebetulan foto ini diambil di pantai Parangtritis, Jogja, dan bertepatan dengan sebuah acara spiritual keagamaan.

Meski begitu, saya ragu setelah sering baca berita aneh-aneh dienigma. Untuk itu saya mohon bantuan anda untuk memecahkan misteri alam ini. Foto ini diambil pada tanggal 22 juli 2010 dan belum diedit.Terimakasih untuk bantuannya.
Di bawah ini adalah foto yang telah saya atur kontrasnya:

Ini bukan pertama kalinya terjadi penampakan di langit yang diasosiasikan dengan ular atau naga. Mungkin yang paling baru adalah kehebohan yang tercipta setelah harian epochtimes memberitakan munculnya "seekor naga" di langit kota Jilin, Cina, seperti yang terlihat di foto berikut ini.

Ketika melihatnya, saya yakin kebanyakan dari kalian TIDAK akan melihat seekor naga. Kalian mungkin hanya mengidentifikasikannya sebagai sebuah formasi awan dan cahaya matahari.

Namun, saya tidak akan heran jika masyarakat Cina menganggapnya sebagai penampakan seekor naga. Soalnya, kebudayaan atau kepercayaan seseorang akan sangat mempengaruhi cara mereka menilai sesuatu. Karena naga adalah makhluk mitologi yang sangat dihormati di Cina, maka formasi-formasi awan itu akan terlihat seperti naga bagi mereka.

Dalam kasus foto di pantai Parangtritis, hal yang sama juga terjadi. Pada saat itu terjadi upacara keagamaan. Lalu lokasi penampakannya adalah di pantai Parangtritis yang memiliki legenda dan kepercayaan yang sangat kuat mengenai Nyi Roro Kidul yang disebut memiliki tunggangan seekor naga. Dengan kondisi yang mendukung seperti ini, tidak heran kalau objek itu dianggap sebagai seekor naga.

Hal yang sama juga pernah terjadi ketika awan panas Merapi terlihat membentuk kepala Petruk.

Jika foto itu diambil di atas kota Jakarta, dan bukan di Parangtritis, mungkin ia akan dinilai secara berbeda. Demikian juga bagi kalian yang tidak mengadopsi kepercayaan mengenai Nyi Roro Kidul. Mungkin kalian hanya akan melihatnya sebagai sebuah formasi awan yang unik.

Jika foto itu bukan foto naga tunggangan Nyi Roro Kidul, lalu foto apakah itu?

Awan?

Kalau itu awan, pernahkah kalian melihat formasi awan berbentuk tabung yang seindah itu?

Belum pernah?

Saya juga belum pernah. Tetapi, sebenarnya ada jenis awan yang mirip dengan apa yang terlihat di foto itu, yaitu awan Morning Glory.

Awan morning glory adalah sebuah fenomena alam yang sangat langka. Ia pernah terlihat di banyak lokasi berbeda di seluruh dunia, namun hanya di bagian utara teluk Carpentaria di Australia dimana awan jenis ini dapat diprediksi dan diobservasi.


Awan morning glory memiliki bentuk seperti gulungan/tabung yang panjangnya bisa mencapai hingga 1.000 kilometer dengan ketinggian 1 hingga 2 kilometer. Bahkan, kadang ia bisa berada pada ketinggian hanya sekitar 100 hingga 200 meter dari permukaan bumi. Awan ini juga bergerak dengan kecepatan sekitar 60 kilometer perjam.

Umumnya formasinya hanya terdiri dari satu awan, namun, kadang bisa mencapai hingga delapan gulungan awan.


Walaupun fenomena awan ini biasa terjadi setiap tahun di teluk Carpentaria, para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti bagaimana awan indah ini bisa terbentuk. Sebagian percaya kalau awan ini mungkin terbentuk akibat tiupan angin laut dari barat yang lebih kuat dan hangat dibandingkan angin timur. Ketika angin barat ini menggulung angin timur, terbentuklah awan Morning Glory.

Lalu, pertanyaannya, apakah yang terlihat di foto Parangtritis itu adalah formasi awan Morning Glory?

Saya tidak bisa memastikannya. Soalnya foto itu tidak memiliki patokanlandscape darat yang membuat kita sulit untuk melihat ketinggiannya.

Tetapi jika kalian menanyakan pendapat saya, maka menurut saya, kalaupun itu bukan awan morning glory, saya percaya apa yang terlihat di foto itu hanyalah formasi awan biasa yang kebetulan terlihat seperti badan ular (karenaefek pareidolia), bukan penampakan seekor ular naga.

Formasi awan-awan yang kebetulan terlihat seperti seekor makhluk adalah hal yang biasa terjadi, walaupun cukup langka. Coba lihat foto-foto di bawah ini, apakah mirip dengan ular?


Sebenarnya misteri foto Parangtritis dan foto naga Jilin bisa terpecahkan dengan mudah jika para saksi juga memberikan informasi mengenai lama penampakan dan bagaimana citra itu menghilang. Jika kedua "naga" yang ada di foto Parangtritis atau Jilin menghilang perlahan-lahan dengan berubah menjadi bentuk yang tidak teratur, maka bisa dipastikan kalau kedua "naga" itu sesungguhnya hanyalah formasi awan biasa.

Namun jika kedua "naga" tersebut bergerak seperti ular, maka mungkin itu memang naga yang sesungguhnya.

Selain itu, dalam kasus foto Parangtritis, sang pemotret seharusnya juga mengambil foto lain yang memperlihatkan ujung "naga" tersebut. Jika tidak, maka foto ini bisa dengan mudah dianggap memenuhi unsur rekayasa photoshop (warna "naga" yang berbeda dari warna sekitarnya cukup menarik). 

Namun, paling tidak, kalaupun objek itu bukan rekayasa dan memang awan, maka kita pun bisa menyebutnya sebagai sebuah "mukjizat" karena muncul pada lokasi dan waktu yang tepat.

Sekali lagi, saya tidak akan memutuskan untuk kalian apa yang harus kalian percayai karena mungkin kita memiliki budaya dan kepercayaan yang berbeda.

Nah, sebelum saya mengakhiri tulisan ini, mari kita bermain-main dengan pareidolia. Saya ingin menunjukkan sebuah foto kepada kalian. Ini dia:



Legenda Kraken

Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.


Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam bukuSystema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Seberapa besarkan seekor cumi atau gurita bisa bertumbuh?

Benarkan mereka bisa menyerang sebuah kapal besar seperti yang digambarkan di film-film?

Penampakan Signifikan
Pada tahun 1801, Pierre Denys de Montfort yang menyelidiki subjek mengenai Kraken menemukan kalau di Kapel St.Thomas di St.Malo, Brittany, Perancis, ada sebuah lukisan yang menggambarkan seekor gurita raksasa sedang menyerang sebuah kapal dengan cara menggulungnya dengan tentakelnya. Insiden yang tergambar dalam lukisan tersebut ternyata berdasarkan pada peristiwa nyata.

Dikisahkan kalau kapal tersebut adalah kapal Norwegia yang sedang berada di lepas pantai Angola. Ketika mendapatkan serangan tak terduga tersebut, para pelaut di atas kapal lalu membuat sebuah kaul untuk St.Thomas yaitu jika mereka dapat terlepas dari bahaya ini, mereka akan melakukan perjalanan ziarah.

Para awak kapal kemudian mengambil kapak dan mulai melawan monster itu dengan memotong tentakel-tentakelnya. Monster itupun pergi. Sebagai pemenuhan atas kaul itu, para awak kemudian mengunjungi Kapel St.Thomas di Britanny dan menggantung lukisan itu sebagai ilustrasi atas peristiwa yang menimpa mereka.

Sayangnya, peristiwa yang menimpa para pelaut itu tidak diketahui persis tahun terjadinya. Namun, paling tidak, penyerangan monster raksasa terhadap sebuah kapal tidak bisa dibilang sebagai mitos semata.

Selain kisah lukisan di Kapel St.Thomas, Mr.Monfort juga menceritakan perjumpaan lain dengan makhluk serupa cumi atau gurita raksasa yang dialami oleh kapten Jean-Magnus Dens dari Denmark yang bertemu dengan makhluk itu juga di lepas pantai Angola. Makhluk raksasa itu menyerang kapal mereka dan bahkan berhasil membunuh tiga awaknya.

Para awak kapal yang lain tidak tinggal diam dan segera mengambil meriam dan menembakkannya ke monster itu berulang-ulang hingga ia menghilang ke dalam lautan.

Kapten Dens memperkirakan monster itu memiliki panjang 11 meter.

Kisah lain terjadi pada tanggal 30 November 1861. Ketika sedang berlayar di kepulauan Canary, para awak kapal Perancis, Alencton, menyaksikan seekor monster laut raksasa berenang tidak jauh dari kapal. Para pelaut segera menyiapkan peluru dan mortir yang kemudian ditembakkannya ke arah monster itu.

Monster yang ketakutan dengan segera berenang menjauh. Namun, kapal Alencton segera diarahkan untuk mengejarnya. Ketika mereka berhasil mendekatinya, garpu-garpu besi segera dihujamkan ke tubuh monster itu dan jaring segera dilemparkan. Ketika para awak mengangkat jaring itu, tubuh monster itu patah dan hancur yang kemudian segera jatuh ke dalam air dengan menyisakan hanya sebagian dari tentakelnya.

Ketika kapal itu mendarat dan tentakel itu diperlihatkan kepada komunitas ilmuwan, mereka sepakat kalau para awak kapal mungkin telah menyaksikan seekor cumi raksasa dengan panjang sekitar 8 meter.

Pada bulan Oktober 1873, seorang nelayan bernama Theophile Piccot dan anaknya berhasil menemukan tentakel cumi raksasa di Newfoundland. Setelah diukur, para peneliti menyimpulkan kalau hewan itu kemungkinan memiliki panjang hingga 11 meter.

Pada tahun 1924, Frank T.Bullen menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Cruise of the Chacalot. Dalam buku ini, Bullen menceritakan sebuah kisah luar biasa yang disebut terjadi pada tahun 1875. Kisah ini membuat Kraken mendapatkan musuh abadinya, yaitu Paus Penyembur (Sperm Whale).

Menurut Bullen, pada tahun 1875 ia sedang berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di selat Malaka. Ketika malam bulan purnama, ia melihat ada sebuah riakan besar di air.

"Ada gerakan besar di dalam laut saat purnama. Aku meraih teropong malam yang selalu siap di gantungannya. Aku melihat seekor paus penyembur besar sedang terlibat perang hebat dengan seekor cumi-cumi yang memiliki tubuh hampir sebesar paus itu. Kepala paus itu terlihat lincah seperti tangan saja layaknya. Paus itu terlihat sedang menggigit tentakel cumi itu dengan sistematis. Di samping kepalanya yang hitam, juga terlihat kepala cumi yang besar. Mengerikan, aku tidak pernah membayangkan ada cumi dengan kepala sebesar itu."
Mendengar kesaksian Bullen, kita mungkin tergoda untuk mengatakan kalau ia membesar-besarkan atau mungkin mengarangnya saja. Namun, pada Oktober 2009, komunitas ilmuwan menyadari kalau kisah yang diceritakan Bullen mungkin memang bukan sekedar cerita fiksi. Cumi raksasa memang bermusuhan dengan Paus Penyembur.

Di wilayah perairan di pulau Bonin di Jepang, para peneliti kelautan berhasil mendapatkan foto-foto langka yang memperlihatkan seekor paus penyembur sedang menyantap seekor cumi raksasa yang diperkirakan memiliki panjang 9 meter.


Dendam lama tidak pernah berakhir.

Giant Squid, Colossal Squid dan Giant Octopus
Sekarang, mari kita sedikit mengenal lebih jauh tiga teman raksasa kita yang mungkin telah memicu legenda Kraken. Saya akan mulai dari Giant Squid atau Cumi raksasa.

Giant Squid atau Cumi-cumi raksasa
Giant Squid atau cumi-cumi raksasa yang berasal dari genus Architeuthis ini memiliki 8 spesies dan diketahui bisa memiliki panjang hingga 13 meter bagi yang betina dan 10 meter untuk yang jantan. Ukuran ini dihitung dari sirip caudal hingga ujung tentakelnya. Namun, ukuran cumi ini bisa jadi lebih besar daripada yang diperkirakan.

Pada tahun 1880, potongan tentakel ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan merupakan milik dari cumi raksasa yang memiliki panjang 18 meter. Ukuran yang sangat luar biasa!


Ide kalau seekor cumi raksasa bisa menenggelamkan sebuah kapal mungkin terdengar mengada-ngada pada zaman ini. Namun, pada abad pertengahan, ukuran kapal tidak sebesar yang kita miliki sekarang. Contohnya, kapal Columbus yang bernama Pinta hanya memiliki panjang 18 meter. Sebuah cumi sepanjang 10-15 meter sudah bisa dipastikan dapat menyerang dan menenggelamkan kapal ini dengan mudah.


Perilaku giant Squid ini hampir tidak pernah dikenal sebelumnya hingga pada tahun 2004 ketika para ilmuwan Jepang berhasil mendapatkan 556 foto makhluk ini dalam keadaan hidup. Cumi-cumi tersebut terperangkap dalam sebuah jebakan yang dibuat. Ketika ia berhasil lolos, salah satu tentakelnya yang memiliki panjang 5,5 meter putus. Dari panjang ini, para ilmuwan tersebut memperkirakan kalau makhluk itu memiliki panjang 8 meter.

Colossal Squid atau Cumi Kolosal
Apabila kita mengira Cumi raksasa sudah memiliki ukuran yang luar biasa, maka, perkenalkan makhluk yang satu ini, Colossal Squid atau Cumi kolosal.

Makhluk ini memiliki nama latin Mesonychoteuthis hamiltoni dan para ilmuwan percaya kalau makhluk ini bisa bertumbuh hingga paling tidak memiliki panjang 14 meter. Ini membuatnya menjadi hewan invertebrata terpanjang di dunia. Walaupun demikian, para ilmuwan tidak bisa memastikan hingga seberapa panjang hewan ini bisa bertumbuh.

Mengenai Colossal Squid, Dr.Steve O'Shea, ahli cumi dari Auckland University berkata:

"Sekarang kita tahu kalau makhluk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Giant Squid. Giant Squid bukan lagi cumi terbesar di luar sana. Sekarang kita memiliki sesuatu yang lebih besar. Bahkan bukan cuma sekedar besar, tetapi benar-benar jauh lebih besar."


Colossal Squid di foto di atas ditangkap di Laut Ross dan memiliki panjang mantel 2,5 meter. Ukuran ini termasuk luar biasa karena Giant Squid terbesar yang diketahui hanya memiliki panjang mantel 2,25 meter. Lagipula, Colossal Squid di atas dipercaya masih dapat bertambah panjang hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar.

Jika ada Kraken di luar sana, maka bisa dipastikan kalau Colossal Squid adalah tersangka paling utamanya.

Lalu, apa bedanya Giant Squid dan Colossal Squid?

Giant Squid hanya memiliki tentakel yang memiliki lubang penghisap dan gigi-gigi kecil, sedangkan Colossal Squid memiliki tentakel yang juga dilengkapi dengan kait yang tajam. Beberapa kait bahkan memiliki 3 ujung.

Selain dua jenis Cumi-cumi di atas, makhluk yang satu ini juga memiliki tentakel dan bisa bertumbuh dalam ukuran yang luar biasa, yaitu Giant Octopus.

Giant Octopus atau Gurita Raksasa
Giant Octopus atau gurita raksasa bisa bertumbuh hingga memiliki panjang 9 meter. Panjang ini cukup membuatnya menjadi monster yang ditakuti oleh para pelaut. Makhluk inilah yang dipercaya Monfort sebagai monster yang menyerang para pelaut Norwegia di lepas pantai Angola yang lukisannya tergantung di Kapel St.Thomas.

Bangkai ini terdampar di pantai St.Augustine, Florida tahun 1896. Dipercaya sebagai Giant Octopus


Pada masa kini, teori mengenai Cumi atau Gurita raksasa dianggap sebagai penjelasan yang paling masuk akal mengenai legenda Kraken.

Jika kita beranggapan kalau legenda Eropa yang mengatakan kalau Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau sebagai "membesar-besarkan", maka mungkin misteri Kraken memang sudah terpecahkan.