Jumat, 03 September 2010
Bermuda Triangle
The Bermuda Triangle, also known as the Devil's Triangle, is a region in the western part of the North Atlantic Ocean where a number of aircraft and surface vessels allegedly disappeared mysteriously. Popular culture has attributed these disappearances to the paranormal or activity by extraterrestrial beings.[1] Documented evidence indicates that a significant percentage of the incidents were inaccurately reported or embellished by later authors, and numerous official agencies have stated that the number and nature of disappearances in the region is similar to that in any other area of ocean.
The boundaries of the triangle cover the Straits of Florida, the Bahamas and the entire Caribbean island area and the Atlantic east to the Azores. The more familiar triangular boundary in most written works has as its points somewhere on the Atlantic coast of Miami, San Juan, Puerto Rico; and the mid-Atlantic island of Bermuda, with most of the accidents concentrated along the southern boundary around the Bahamas and the Florida Straits.
The area is one of the most heavily traveled shipping lanes in the world, with ships crossing through it daily for ports in the Americas, Europe, and the Caribbean Islands. Cruise ships are also plentiful, and pleasure craft regularly go back and forth between Florida and the islands. It is also a heavily flown route for commercial and private aircraft heading towards Florida, the Caribbean, and South America from points north.
The earliest allegation of unusual disappearances in the Bermuda area appeared in a September 16, 1950 Associated Press article by Edward Van Winkle Jones.[2] Two years later, Fate magazine published "Sea Mystery At Our Back Door",[3] a short article by George X. Sand covering the loss of several planes and ships, including the loss of Flight 19, a group of five U.S. Navy TBM Avenger bombers on a training mission. Sand's article was the first to lay out the now-familiar triangular area where the losses took place. Flight 19 alone would be covered in the April 1962 issue of American Legion Magazine.[4] It was claimed that the flight leader had been heard saying "We are entering white water, nothing seems right. We don't know where we are, the water is green, no white." It was also claimed that officials at the Navy board of inquiry stated that the planes "flew off to Mars." Sand's article was the first to suggest a supernatural element to the Flight 19 incident. In the February 1964 issue of Argosy, Vincent Gaddis's article "The Deadly Bermuda Triangle" argued that Flight 19 and other disappearances were part of a pattern of strange events in the region.[5] The next year, Gaddis expanded this article into a book, Invisible Horizons.[6]
Others would follow with their own works, elaborating on Gaddis's ideas: John Wallace Spencer (Limbo of the Lost, 1969, repr. 1973);[7] Charles Berlitz (The Bermuda Triangle, 1974);[8] Richard Winer (The Devil's Triangle, 1974),[9] and many others, all keeping to some of the same supernatural elements outlined by Eckert
Triangle writers have used a number of supernatural concepts to explain the events. One explanation pins the blame on leftover technology from the mythical lost continent of Atlantis. Sometimes connected to the Atlantis story is the submerged rock formation known as the Bimini Road off the island of Bimini in the Bahamas, which is in the Triangle by some definitions. Followers of the purported psychic Edgar Cayce take his prediction that evidence of Atlantis would be found in 1968 as referring to the discovery of the Bimini Road. Believers describe the formation as a road, wall, or other structure, though geologists consider it to be of natural origin.[18]
Other writers attribute the events to UFOs.[19] This idea was used by Steven Spielberg for his science fiction film Close Encounters of the Third Kind, which features the lost Flight 19 aircrews as alien abductees.
Charles Berlitz, author of various books on anomalous phenomena, lists several theories attributing the losses in the Triangle to anomalous or unexplained forces.
Pavlopetri, Kota Tertua di Dunia yang Berada di Bawah Laut
Para geo-arkeologi laut kembali membuat prestasi besar dengan keberhasilannya mengungkap keberadaan kota kuno yang terendam di bawah laut. Kota bernama Pavlopetri di Yunani ini diperkirakan eksis pada jaman perunggu yakni 5000-6000 tahun lalu atau 12000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan semula.
Yang menarik, jejak keberadaan kota yang tenggelam 4-5 meter di bawah laut ini masih terlihat jelas, termasuk runtuhan bangunan serta benda-benda peninggalannya seperti tembikar, keramik, dll.
Para ahli memperkirakan, inilah kota bawah laut tertua di dunia yang berhasil ditemukan. "Diperkirakan kota yang tenggelam ini adalah kota pelabuhan. Hal ini ditandai dari bangkai kapal yang berada di dekatnya. Penemuan keramik zaman neolitikum, merupakan suatu yang luar biasa. Kota ini dulunya adalah tempat perdagangan barang dan jasa yang maju," ujar.Geo-arkeologi laut Dr Nic Flemming dari National Oceanography Centre, Southampton.
Pavlopetri terletak di kedalaman 3 - 4 meter di bawah air tidak jauh dari pantai berpasir selatan Laconia.
Kotanya masih sangat lengkap. Bangunan rumah, jalan, halaman, gedung peribadahan, kuburan, semuanya sudah dipetakan menggunakan perlengkapan 3-D digital yang paling mutakhir.
Pavlopetri dulunya diperkirakan berasal dari periode Mycenaean (sekitar 1680-1180 SM), dari masa sejarah Yunani Kuno yang kaya akan kesusasteraan dan mitos. Dari benda-benda tembikar Neolitis yang baru saja ditemukan menunjukkan tempat ini mungkin telah ditempati sejak sedikitnya 2800 SM. Dengan mempelajari tempat bahari penting ini, peneliti berharap untuk dapat lebih mengerti tentang peninggalan dari masyarakat Yunani Zaman Perunggu.
Proyek pengungkapan kota ini dilaksanakan oleh suatu tim multidisipliner, termasuk Dr Flemming, yang dipimpin oleh Mr Elias Spondylis, Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic di Yunani dan Dr Jon Henderson, seorang arkeolog bawah air dari Departemen Arkeologi di Universitas Nottingham.
Kota kuno bawah air ini pertama kali ditemukan pada tahun 1967 oleh Flemming, kemudian di National Institute of Oceanography. Ia dulu memperkirakan kota itu berasal pada jaman perunggu 2000 BC. Flemming kemudian bergabung dengan tim dari Cambridge University pada1968, untuk melakukan penelitian.
Hasilnya diterbitkan oleh The British School di Athena pada tahun 1969, namun setelah itu tidak ada tindak lanjutnya. Penelitian itu ‘stag' selama 40 tahun, Sejak itu tidak ada lagi peneliti yang masuk ke sana untuk mengungkap misteri kota kuno itu. Tahun 70-an Flemming bergabung dengan arkeolog dari University of Nottingham dan Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic, kembali memulai penelitian pada situs kuno itu.
"Apa yang kami temukan di sini adalah sesuatu yang dua atau bahkan tiga ribu tahun lebih tua daripada sebagian besar kota terendam yang telah dipelajari," kata Flemming: "Dan uniknya, kami memiliki rencana kota yang lengkap, utama jalan-jalan dan semua bangunan domestik. Kita dapat mempelajari bagaimana itu digunakan sebagai pelabuhan, di mana kapal-kapal datang dan bagaimana perdagangan dikelola. " jelasnya.
Dr. Jon Henderson, seorang arkeolog dari Universitas Nottingham, bergabung memimpin penelitian dengan Elias Spondylis dari Benda Purbakala Bawah Air Ephorate bagian dari Kementrian Kebudayaan Hellenic di Yunani. Dr. Henderson adalah arkeolog pertama dalam 40 tahun yang mendapat surat izin resmi dari pemerintah Yunani untuk bekerja di sana.
"Hal ini sangat menggairahkan. Saya pernah membaca tentang situs ini ketika saya masih muda dan sulit dipercaya bahwa saya bukan hanya menyelam di sana tetapi juga berkesempatan untuk mengerjakannya. Kemudian kami menemukan sekitar 9.000 meter persegi gedung baru yang baru-baru ini tampak karena pergerakan di pasir, sungguh luar biasa," kata Dr. Henderson.
Yang menarik, jejak keberadaan kota yang tenggelam 4-5 meter di bawah laut ini masih terlihat jelas, termasuk runtuhan bangunan serta benda-benda peninggalannya seperti tembikar, keramik, dll.
Para ahli memperkirakan, inilah kota bawah laut tertua di dunia yang berhasil ditemukan. "Diperkirakan kota yang tenggelam ini adalah kota pelabuhan. Hal ini ditandai dari bangkai kapal yang berada di dekatnya. Penemuan keramik zaman neolitikum, merupakan suatu yang luar biasa. Kota ini dulunya adalah tempat perdagangan barang dan jasa yang maju," ujar.Geo-arkeologi laut Dr Nic Flemming dari National Oceanography Centre, Southampton.
Pavlopetri terletak di kedalaman 3 - 4 meter di bawah air tidak jauh dari pantai berpasir selatan Laconia.
Kotanya masih sangat lengkap. Bangunan rumah, jalan, halaman, gedung peribadahan, kuburan, semuanya sudah dipetakan menggunakan perlengkapan 3-D digital yang paling mutakhir.
Pavlopetri dulunya diperkirakan berasal dari periode Mycenaean (sekitar 1680-1180 SM), dari masa sejarah Yunani Kuno yang kaya akan kesusasteraan dan mitos. Dari benda-benda tembikar Neolitis yang baru saja ditemukan menunjukkan tempat ini mungkin telah ditempati sejak sedikitnya 2800 SM. Dengan mempelajari tempat bahari penting ini, peneliti berharap untuk dapat lebih mengerti tentang peninggalan dari masyarakat Yunani Zaman Perunggu.
Proyek pengungkapan kota ini dilaksanakan oleh suatu tim multidisipliner, termasuk Dr Flemming, yang dipimpin oleh Mr Elias Spondylis, Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic di Yunani dan Dr Jon Henderson, seorang arkeolog bawah air dari Departemen Arkeologi di Universitas Nottingham.
Kota kuno bawah air ini pertama kali ditemukan pada tahun 1967 oleh Flemming, kemudian di National Institute of Oceanography. Ia dulu memperkirakan kota itu berasal pada jaman perunggu 2000 BC. Flemming kemudian bergabung dengan tim dari Cambridge University pada1968, untuk melakukan penelitian.
Hasilnya diterbitkan oleh The British School di Athena pada tahun 1969, namun setelah itu tidak ada tindak lanjutnya. Penelitian itu ‘stag' selama 40 tahun, Sejak itu tidak ada lagi peneliti yang masuk ke sana untuk mengungkap misteri kota kuno itu. Tahun 70-an Flemming bergabung dengan arkeolog dari University of Nottingham dan Ephorate dari Underwater Antiquities dari Kementerian Kebudayaan Hellenic, kembali memulai penelitian pada situs kuno itu.
"Apa yang kami temukan di sini adalah sesuatu yang dua atau bahkan tiga ribu tahun lebih tua daripada sebagian besar kota terendam yang telah dipelajari," kata Flemming: "Dan uniknya, kami memiliki rencana kota yang lengkap, utama jalan-jalan dan semua bangunan domestik. Kita dapat mempelajari bagaimana itu digunakan sebagai pelabuhan, di mana kapal-kapal datang dan bagaimana perdagangan dikelola. " jelasnya.
Dr. Jon Henderson, seorang arkeolog dari Universitas Nottingham, bergabung memimpin penelitian dengan Elias Spondylis dari Benda Purbakala Bawah Air Ephorate bagian dari Kementrian Kebudayaan Hellenic di Yunani. Dr. Henderson adalah arkeolog pertama dalam 40 tahun yang mendapat surat izin resmi dari pemerintah Yunani untuk bekerja di sana.
"Hal ini sangat menggairahkan. Saya pernah membaca tentang situs ini ketika saya masih muda dan sulit dipercaya bahwa saya bukan hanya menyelam di sana tetapi juga berkesempatan untuk mengerjakannya. Kemudian kami menemukan sekitar 9.000 meter persegi gedung baru yang baru-baru ini tampak karena pergerakan di pasir, sungguh luar biasa," kata Dr. Henderson.
KOTA BAWAH TANAH DITEMUKAN DI MESIR
Tim arkeolog Austria berhasil mendapatkan foto sketsa kota bawah tanah di Mesir dengan menggunakan teknik pemetaan radar (radar imaging). Departemen Barang Antik Mesir, Ahad (20/6) waktu setempat, mengatakan para arkeolog berusaha memecahkan misteri kota bawah tanah tersebut.
Mesir sempat dikuasai oleh Hyksos, kaum petarung dari Asia, selama seabad dari 1664-1569 sebelum masehi. Mereka diketahui membuat pusat kota di sekitar wilayah muara sungai bagian utara Mesir.
Irene Mueller, kepala tim ekspedisi Austria menjelaskan tujuan utama dari projek ini adalah mengetahui sampai sejauh mana kota bawah tanah berujung. Imej radar menunjukkan sketsa kasar sejumlah ruas jalan, rumah, dan kuil. Peradaban hilang ini berada di bawah kota modern Tel al-Dabaa.
Seorang arkeolog, Zahi Hawass menghimbau teknik non-invasif adalah cara terbaik untuk menguak tabir kota bawah tanah ini. Pasalnya, kawasan muara sungai Mesir dipadati ratusan ribu penduduk, membuat penggalian sulit dilakukan. Tim arkeolog Austria telah terjun dalam projek ini sejak 1975.
Mesir sempat dikuasai oleh Hyksos, kaum petarung dari Asia, selama seabad dari 1664-1569 sebelum masehi. Mereka diketahui membuat pusat kota di sekitar wilayah muara sungai bagian utara Mesir.
Irene Mueller, kepala tim ekspedisi Austria menjelaskan tujuan utama dari projek ini adalah mengetahui sampai sejauh mana kota bawah tanah berujung. Imej radar menunjukkan sketsa kasar sejumlah ruas jalan, rumah, dan kuil. Peradaban hilang ini berada di bawah kota modern Tel al-Dabaa.
Seorang arkeolog, Zahi Hawass menghimbau teknik non-invasif adalah cara terbaik untuk menguak tabir kota bawah tanah ini. Pasalnya, kawasan muara sungai Mesir dipadati ratusan ribu penduduk, membuat penggalian sulit dilakukan. Tim arkeolog Austria telah terjun dalam projek ini sejak 1975.
KOTA BAWAH TANAH DITEMUKAN DI MESIR
Tim arkeolog Austria berhasil mendapatkan foto sketsa kota bawah tanah di Mesir dengan menggunakan teknik pemetaan radar (radar imaging). Departemen Barang Antik Mesir, Ahad (20/6) waktu setempat, mengatakan para arkeolog berusaha memecahkan misteri kota bawah tanah tersebut.
Mesir sempat dikuasai oleh Hyksos, kaum petarung dari Asia, selama seabad dari 1664-1569 sebelum masehi. Mereka diketahui membuat pusat kota di sekitar wilayah muara sungai bagian utara Mesir.
Irene Mueller, kepala tim ekspedisi Austria menjelaskan tujuan utama dari projek ini adalah mengetahui sampai sejauh mana kota bawah tanah berujung. Imej radar menunjukkan sketsa kasar sejumlah ruas jalan, rumah, dan kuil. Peradaban hilang ini berada di bawah kota modern Tel al-Dabaa.
Seorang arkeolog, Zahi Hawass menghimbau teknik non-invasif adalah cara terbaik untuk menguak tabir kota bawah tanah ini. Pasalnya, kawasan muara sungai Mesir dipadati ratusan ribu penduduk, membuat penggalian sulit dilakukan. Tim arkeolog Austria telah terjun dalam projek ini sejak 1975.
Mesir sempat dikuasai oleh Hyksos, kaum petarung dari Asia, selama seabad dari 1664-1569 sebelum masehi. Mereka diketahui membuat pusat kota di sekitar wilayah muara sungai bagian utara Mesir.
Irene Mueller, kepala tim ekspedisi Austria menjelaskan tujuan utama dari projek ini adalah mengetahui sampai sejauh mana kota bawah tanah berujung. Imej radar menunjukkan sketsa kasar sejumlah ruas jalan, rumah, dan kuil. Peradaban hilang ini berada di bawah kota modern Tel al-Dabaa.
Seorang arkeolog, Zahi Hawass menghimbau teknik non-invasif adalah cara terbaik untuk menguak tabir kota bawah tanah ini. Pasalnya, kawasan muara sungai Mesir dipadati ratusan ribu penduduk, membuat penggalian sulit dilakukan. Tim arkeolog Austria telah terjun dalam projek ini sejak 1975.
Abdul Rivai
Abdul Rivai, hidup tahun 1871-1933, profesinya dokter, wartawan, pengarang yang nasionalis. Ia merupakan putra Gunung Raja, seorang guru sekolah Melayu di Palembang. Ia belajar pada Sekolah Dokter Jawa di Batavia dengan beasiswa pemerintah Hindia Belanda tahun 1886-1894.
Sebagai pelajar, ia telah mulai menulis karangan untuk surat-surat kabar. Setelah lulus tahun 1894, ia ditempatkan di Medan. Selama lima tahun berpraktek dokter Jawa di Medan, dan berhasil mengumpulkan uang untuk meneruskan sekolah di Belanda.
Dari orang tuanya yang masih konservatif, berpakaian Eropa saja dianggap masuk agama Kristen, tetapi tekadnya untuk mandiri membuatnya berhasil mengatasi segala kesulitan. Tahun 1899 Rivai berangkat ke Belanda, baru setahun belajar di Universitas Utrecht, ada peraturan bahwa dokter Jawa tidak diperkenankan menempuh ujian arts (dokter) sebelum mempunyai ijazah Sekolah Menengah Atas Belanda.
Tekanan bagi kemajuan pribumi ini diatasinya juga. Setelah beberapa tahun belajar bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Latin dan Yunani disamping bahasa Belanda, ia berhasil lulus ujian negara (staatssexamen) sekolah menengah atas di Amsterdam tahun 1906 dan dengan itu ia berhak meneruskan pelajaran di Instituut Pasteur di Paris dan mencapai gelar Doctor di Universitas Gent, Belgia.
Selama di Eropa, Rivai giat mengembangkan kemampuannya dalam mengarang. Sejak tahun 1901 sampai 1907 menjadi redaktur Bintang Hindia yang diterbitkan di Belanda. Kembali ke tanah air, Rivai ditempatkan sebagai dokter militer di Cimahi tahun 1911 dan di Padang tahun 1912. Dalam kedudukannya itu Rivai banyak mengalami penghinaan masyarakat kolonial Belanda.
Meskipun dalam segala hal tidak kalah dengan orang Eropa, ia masih dipandang sebagai Inlander, ini mempertebal rasa nasionalismenya yang diterakan pada karangannya. Akhirnya Rivai berhenti sebagai dokter partikelir di Surabaya tahun 1917, kemudian di Semarang dan terakhir di Jakarta.
Tahun 1918-1924 Abdul Rivai duduk dalam Volksraad sebagai anggota pilihan yang ditunjuk Gubernur Jendral. Pendirian Medische Hoogeschool ialah salah satu kemenangan perjuangannya yang gigih melawan oposisi pihak kolonial di Hindia Belanda dan di negeri Belanda sendiri.
Tulisan-tulisan Rivai dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku berjudul Koloniale Tragedie. Dr Abdul Rivai wafat tahun 1933 dan dimakamkan di Bandung.
Abdul Rivai
Abdul Rivai, hidup tahun 1871-1933, profesinya dokter, wartawan, pengarang yang nasionalis. Ia merupakan putra Gunung Raja, seorang guru sekolah Melayu di Palembang. Ia belajar pada Sekolah Dokter Jawa di Batavia dengan beasiswa pemerintah Hindia Belanda tahun 1886-1894.
Sebagai pelajar, ia telah mulai menulis karangan untuk surat-surat kabar. Setelah lulus tahun 1894, ia ditempatkan di Medan. Selama lima tahun berpraktek dokter Jawa di Medan, dan berhasil mengumpulkan uang untuk meneruskan sekolah di Belanda.
Dari orang tuanya yang masih konservatif, berpakaian Eropa saja dianggap masuk agama Kristen, tetapi tekadnya untuk mandiri membuatnya berhasil mengatasi segala kesulitan. Tahun 1899 Rivai berangkat ke Belanda, baru setahun belajar di Universitas Utrecht, ada peraturan bahwa dokter Jawa tidak diperkenankan menempuh ujian arts (dokter) sebelum mempunyai ijazah Sekolah Menengah Atas Belanda.
Tekanan bagi kemajuan pribumi ini diatasinya juga. Setelah beberapa tahun belajar bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Latin dan Yunani disamping bahasa Belanda, ia berhasil lulus ujian negara (staatssexamen) sekolah menengah atas di Amsterdam tahun 1906 dan dengan itu ia berhak meneruskan pelajaran di Instituut Pasteur di Paris dan mencapai gelar Doctor di Universitas Gent, Belgia.
Selama di Eropa, Rivai giat mengembangkan kemampuannya dalam mengarang. Sejak tahun 1901 sampai 1907 menjadi redaktur Bintang Hindia yang diterbitkan di Belanda. Kembali ke tanah air, Rivai ditempatkan sebagai dokter militer di Cimahi tahun 1911 dan di Padang tahun 1912. Dalam kedudukannya itu Rivai banyak mengalami penghinaan masyarakat kolonial Belanda.
Meskipun dalam segala hal tidak kalah dengan orang Eropa, ia masih dipandang sebagai Inlander, ini mempertebal rasa nasionalismenya yang diterakan pada karangannya. Akhirnya Rivai berhenti sebagai dokter partikelir di Surabaya tahun 1917, kemudian di Semarang dan terakhir di Jakarta.
Tahun 1918-1924 Abdul Rivai duduk dalam Volksraad sebagai anggota pilihan yang ditunjuk Gubernur Jendral. Pendirian Medische Hoogeschool ialah salah satu kemenangan perjuangannya yang gigih melawan oposisi pihak kolonial di Hindia Belanda dan di negeri Belanda sendiri.
Tulisan-tulisan Rivai dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku berjudul Koloniale Tragedie. Dr Abdul Rivai wafat tahun 1933 dan dimakamkan di Bandung.
Kamis, 02 September 2010
Abdul Rahim Kajai
Abdul Rahim Kajai, Haji lived between the years 1894-1943, the journalistic profession, is a story writer Malaysia. Born in Kuala Lumpur trail. His parents camefrom Minangkabau Kajai. He was educated in Malay schools in the trail in 1905.
In 1906 went to Mecca for religious learning. Back to Kuala Lumpur to work at thegovernment printing office while learning English. In the year 1932 went to Singaporeto work at the Methodist Publishing House. Moving back to Kuala Lumpur because it does not like to work as a coach painter, moved well on the Position Measurement as a painter while.
In 1906 went to Mecca for religious learning. Back to Kuala Lumpur to work at thegovernment printing office while learning English. In the year 1932 went to Singaporeto work at the Methodist Publishing House. Moving back to Kuala Lumpur because it does not like to work as a coach painter, moved well on the Position Measurement as a painter while.
In 1913 returned to Mecca to continue his father's trade. Just returned to Malaya in 1917. After it appeared on the world kecondongannya reporters. He began sendinghis article on the Envoy Institute of Malay and Malay, which was published inSingapore.
In 1924 went back to Mecca for commercial affairs for three years. While in Mecca to send the essay on Idaran Zaman published weekly on the island of Penang in 1925. In1927, returned to Kuala Lumpur. Then a special writer for the weekly publication youare starting October 28, 1928.
In 1930 moved to Penang, was appointed as assistant author of the magazine. Laterhe was appointed as a full author. When the magazine published in Kuala LumpurMajlis on December 17, 1931, he moved to Kuala Lumpur because the author was appointed head of the magazine that dikemudikannya until 1935. Having worked as ajournalist for the Daily News typically published in the Singapore Malay.
In 1936 moved to Singapore, but still working on it daily. In this Daily ditunjukannyathat he as a journalist to proclaim masaah Malay-warm and important issues. Then hewas appointed to be the head writer on the daily and weekly also on the rise of the newspaper business, the Warta and Warta Ahad Jenaka.
On May 29, 1949 was published daily Malay envoy who brought a stronger sense ofpride. Daily is published by by a great sense of nationhood that arise. Byencouragement sense of nationhood is also Abdul Rahim Kajai then moved to workon these daily and was appointed to be the head writer. This newspaper has receiveda broad welcome in order to publish the magazine again that day and Mustika.waktuEnvoy Pacific war broke out he returned to Kuala Lumpur to deliver his family. Afterthe Japanese to rule the whole of Malaya, Singapore and Indonesia, the Japaneseheld a trial
On May 29, 1949 was published daily Malay envoy who brought a stronger sense ofpride. Daily is published by by a great sense of nationhood that arise. Byencouragement sense of nationhood is also Abdul Rahim Kajai then moved to workon these daily and was appointed to be the head writer. This newspaper has receiveda broad welcome in order to publish the magazine again that day and Mustika.waktuEnvoy Pacific war broke out he returned to Kuala Lumpur to deliver his family. Afterthe Japanese to rule the whole of Malaya, Singapore and Indonesia, the Japaneseheld a trial
All journalists Sumatra and Malaya in Singapore on December 7, 1942. Kajai be picked up at a hearing is to be the spokesman told reporters.
After deliberation journalist, he was appointed head of news Malaiyang authorpublished in Singapore and panicle Sinbun Sha. Newspaper began publicationJanuary 1, 1943. As a writer, Kajai began his career by publishing novel titled taleadaptation Dzu'l Ruhain consisting of three volumes of 540 pages and consists of sixseries romance. This novel published in succession between 1930 and 1931. But apparently this novel less acclaim.
After deliberation journalist, he was appointed head of news Malaiyang authorpublished in Singapore and panicle Sinbun Sha. Newspaper began publicationJanuary 1, 1943. As a writer, Kajai began his career by publishing novel titled taleadaptation Dzu'l Ruhain consisting of three volumes of 540 pages and consists of sixseries romance. This novel published in succession between 1930 and 1931. But apparently this novel less acclaim.
Apparently as the story writer he is successful, ie when working on newspaper WartaMalaya with a weekly newsletter and Warta Ahad Jenaka. In the magazine this is theinclusion of the short story in the space tale We, until in 1939 the number is thirty-sixpieces.
At that time the author of short stories are generally not regarded as a man of letters.Cepern Kajai generally didactic. Also Kajai also the author of funny stories, especiallyafter he worked on the Weekly News Jenaka danUtusan Age in the space of word ofMr. Frog and Wak. The space is very famous. Because of the short story at that timewas not known, then the recognition of Kajai as a pioneer stories born long after hedied.
Abdul Rahim Kajai died in the days of Japan in Singapore because of the pain. His works during life: the tale Dzu'l Ruhain, Alloy Journalists, Heritage Kajai, Many ShrimpMany salt.
At that time the author of short stories are generally not regarded as a man of letters.Cepern Kajai generally didactic. Also Kajai also the author of funny stories, especiallyafter he worked on the Weekly News Jenaka danUtusan Age in the space of word ofMr. Frog and Wak. The space is very famous. Because of the short story at that timewas not known, then the recognition of Kajai as a pioneer stories born long after hedied.
Abdul Rahim Kajai died in the days of Japan in Singapore because of the pain. His works during life: the tale Dzu'l Ruhain, Alloy Journalists, Heritage Kajai, Many ShrimpMany salt.
Langganan:
Postingan (Atom)


