Kamis, 02 September 2010

Abdul Rahim Kajai

Abdul Rahim Kajai, Haji lived between the years 1894-1943, the journalistic profession, is a story writer Malaysia. Born in Kuala Lumpur trail. His parents camefrom Minangkabau Kajai. He was educated in Malay schools in the trail in 1905.

In 1906 went to Mecca for religious learning. Back to Kuala Lumpur to work at thegovernment printing office while learning English. In the year 1932 went to Singaporeto work at the Methodist Publishing House. Moving back to Kuala Lumpur because it does not like to work as a coach painter, moved well on the Position Measurement as a painter while.


In 1913 returned to Mecca to continue his father's trade. Just returned to Malaya in 1917. After it appeared on the world kecondongannya reporters. He began sendinghis article on the Envoy Institute of Malay and Malay, which was published inSingapore.

In 1924 went back to Mecca for commercial affairs for three years. While in Mecca to send the essay on Idaran Zaman published weekly on the island of Penang in 1925. In1927, returned to Kuala Lumpur. Then a special writer for the weekly publication youare starting October 28, 1928.

In 1930 moved to Penang, was appointed as assistant author of the magazine. Laterhe was appointed as a full author. When the magazine published in Kuala LumpurMajlis on December 17, 1931, he moved to Kuala Lumpur because the author was appointed head of the magazine that dikemudikannya until 1935. Having worked as ajournalist for the Daily News typically published in the Singapore Malay.

In 1936 moved to Singapore, but still working on it daily. In this Daily ditunjukannyathat he as a journalist to proclaim masaah Malay-warm and important issues. Then hewas appointed to be the head writer on the daily and weekly also on the rise of the newspaper business, the Warta and Warta Ahad Jenaka.

On May 29, 1949 was published daily Malay envoy who brought a stronger sense ofpride. Daily is published by by a great sense of nationhood that arise. Byencouragement sense of nationhood is also Abdul Rahim Kajai then moved to workon these daily and was appointed to be the head writer. This newspaper has receiveda broad welcome in order to publish the magazine again that day and Mustika.waktuEnvoy Pacific war broke out he returned to Kuala Lumpur to deliver his family. Afterthe Japanese to rule the whole of Malaya, Singapore and Indonesia, the Japaneseheld a trial
All journalists Sumatra and Malaya in Singapore on December 7, 1942. Kajai be picked up at a hearing is to be the spokesman told reporters.

After deliberation journalist, he was appointed head of news Malaiyang authorpublished in Singapore and panicle Sinbun Sha. Newspaper began publicationJanuary 1, 1943. As a writer, Kajai began his career by publishing novel titled taleadaptation Dzu'l Ruhain consisting of three volumes of 540 pages and consists of sixseries romance. This novel published in succession between 1930 and 1931. But apparently this novel less acclaim.

Apparently as the story writer he is successful, ie when working on newspaper WartaMalaya with a weekly newsletter and Warta Ahad Jenaka. In the magazine this is theinclusion of the short story in the space tale We, until in 1939 the number is thirty-sixpieces.

At that time the author of short stories are generally not regarded as a man of letters.Cepern Kajai generally didactic. Also Kajai also the author of funny stories, especiallyafter he worked on the Weekly News Jenaka danUtusan Age in the space of word ofMr. Frog and Wak. The space is very famous. Because of the short story at that timewas not known, then the recognition of Kajai as a pioneer stories born long after hedied.

Abdul Rahim Kajai died in the days of Japan in Singapore because of the pain. His works during life: the tale Dzu'l Ruhain, Alloy Journalists, Heritage Kajai, Many ShrimpMany salt.

Abdul Rahim Kajai

Abdul Rahim Kajai, Haji hidup antara tahun 1894-1943, profesi wartawan, merupakan pengarang cerpen Malaysia. Dilahirkan di Setapak Kuala Lumpur. Orang tuanya berasal dari Kajai Minangkabau. Ia mendapat pendidikan pada sekolah Melayu di Setapak dalam tahun 1905.

Pada tahun 1906 pergi ke Mekah untuk belajar agama. Kembali ke Kuala Lumpur bekerja pada kantor percetakan pemerintah sambil belajar bahasa Inggris. Dalam tahun 1932 pergi ke Singapura bekerja pada Methodist Publishing House. Pindah lagi ke Kuala Lumpur karena tidak senang bekerja sebagai pelatih pelukis, pindah pula pada Jabatan Ukur sebagai pelukis sementara. 

Pada tahun 1913 kembali ke Mekah meneruskan perniagaan ayahnya. Baru kembali ke Malaya pada tahun 1917. Sesudah itu tampaklah kecondongannya pada dunia wartawan. Dia mulai mengirimkan karangannya pada Utusan Melayu dan Lembaga Melayu yang terbit di Singapura.

Pada tahun 1924 pergi lagi ke Mekah untuk urusan perniagaan selama tiga tahun. Selama di Mekah mengirimkan karangan pada mingguan Idaran Zaman yang terbit di pulau Penang dalam tahun 1925. Dalam tahun 1927 kembali ke Kuala Lumpur. Kemudian jadi penulis khusus untuk mingguan Saudara yang mulai terbit tanggal 28 Oktober 1928.

Pada tahun 1930 pindah ke Pulau Pinang, diangkat sebagai pembantu pengarang majalah tersebut. Kemudian diangkat sebagai pengarang penuh. Ketika di Kuala Lumpur diterbitkan majalah Majlis pada 17 Desember 1931; ia pindah lagi ke Kuala Lumpur karena diangkat jadi kepala pengarang pada majalah tersebut yang dikemudikannya sampai tahun 1935. Setelah itu bekerja sebagai wartawan khas untuk harian Warta Melayu yang terbit di Singapura.

Pada tahun 1936 pindah ke Singapura, namun tetap bekerja pada harian tersebut. Dalam harian inilah ditunjukannya bahwa ia sebagai wartawan Melayu dapat memberitakan masaah-masalah yang hangat dan penting. Kemudia ia diangkat jadi kepala pengarang pada harian tersebut dan juga pada mingguan yang terbit dari usaha harian itu, yakni Warta Ahad dan Warta Jenaka.

Pada tanggal 29 Mei 1949 terbitlah harian Utusan Melayu yang membawa rasa kebanggaan yang lebih kuat. Harian ini diterbitkan oleh karena dorongan rasa kebangsaan yang timbul. Oleh dorongan rasa kebangsaan ini pula Abdul Rahim Kajai kemudian pindah bekerja pada harian tersebut dan diangkat jadi kepala pengarang. Surat Kabar ini ternyata mendapat sambutan yang luas sehingga dapat menerbitkan majalah lagi yaitu Utusan Zaman dan Mustika.waktu pecah perang Pasifik ia kembali ke Kuala Lumpur untuk mengantarkan keluarganya. Setelah Jepang dapat menguasai seluruh Malaya, Singapura dan Indonesia, maka Jepang mengadakan Persidangan Wartawan Seluruh Sumatera dan Malaya di Singapura pada 7 Desember 1942. Kajai dijemput ke persidangan tersebut untuk jadi juru bicara pada wartawan.

Setelah musyawarah wartawan itu, ia diangkat menjadi kepala pengarang Berita Malai yang diterbitkan di Singapura dan Malai Sinbun Sha. Surat Kabar itu mulai terbit 1 Januari 1943. Sebagai sastrawan, Kajai mulai karirnya dengan menerbitkan roman saduran yang berjudul Cherita Dzu'l Ruhain yang terdiri dari tiga jilid sebanyak 540 halaman dan terdiri dari enam seri roman. Roman ini terbit berturut-turut antara tahun 1930 dan 1931. Tapi rupanya roman ini kurang mendapat sambutan.

Ternyata sebagai pengarang cerpen ia berhasil, yaitu saat bekerja pada harian Warta Malaya dengan mingguan Warta Ahad dan Warta Jenaka. Pada majalah inilah dimasukannya cerpen dalam ruang Cherita Kita, hingga pada tahun 1939 jumlahnya ada tiga puluh enam buah. 

Pada waktu itu umumnya pengarang cerpen belum dianggap sebagai seorang sastrawan. Cepern Kajai umumnya bersifat didaktik. Selain itu Kajai juga mengarang cerita-cerita lucu terutama setelah ia bekerja pada Mingguan Warta Jenaka  dan Utusan Zaman dalam ruang Pak Kodok dan Wak Ketok. Ruang ini sangat terkenal. Karena cerpen pada waktu itu belum dikenal, maka pengakuan terhadap Kajai sebagai pelopor cerpen lahir jauh setelah ia meninggal.

Abdul Rahim Kajai meninggal pada zaman Jepang di Singapura karena sakit yang dideritanya. Karya-karyanya semasa hidup : Cherita Dzu'l Ruhain, Paduan Wartawan, Pusaka Kajai, Banyak Udang Banyak Garam.

Abdul Rahim Kajai

Abdul Rahim Kajai, Haji hidup antara tahun 1894-1943, profesi wartawan, merupakan pengarang cerpen Malaysia. Dilahirkan di Setapak Kuala Lumpur. Orang tuanya berasal dari Kajai Minangkabau. Ia mendapat pendidikan pada sekolah Melayu di Setapak dalam tahun 1905.

Pada tahun 1906 pergi ke Mekah untuk belajar agama. Kembali ke Kuala Lumpur bekerja pada kantor percetakan pemerintah sambil belajar bahasa Inggris. Dalam tahun 1932 pergi ke Singapura bekerja pada Methodist Publishing House. Pindah lagi ke Kuala Lumpur karena tidak senang bekerja sebagai pelatih pelukis, pindah pula pada Jabatan Ukur sebagai pelukis sementara. 

Pada tahun 1913 kembali ke Mekah meneruskan perniagaan ayahnya. Baru kembali ke Malaya pada tahun 1917. Sesudah itu tampaklah kecondongannya pada dunia wartawan. Dia mulai mengirimkan karangannya pada Utusan Melayu dan Lembaga Melayu yang terbit di Singapura.

Pada tahun 1924 pergi lagi ke Mekah untuk urusan perniagaan selama tiga tahun. Selama di Mekah mengirimkan karangan pada mingguan Idaran Zaman yang terbit di pulau Penang dalam tahun 1925. Dalam tahun 1927 kembali ke Kuala Lumpur. Kemudian jadi penulis khusus untuk mingguan Saudara yang mulai terbit tanggal 28 Oktober 1928.

Pada tahun 1930 pindah ke Pulau Pinang, diangkat sebagai pembantu pengarang majalah tersebut. Kemudian diangkat sebagai pengarang penuh. Ketika di Kuala Lumpur diterbitkan majalah Majlis pada 17 Desember 1931; ia pindah lagi ke Kuala Lumpur karena diangkat jadi kepala pengarang pada majalah tersebut yang dikemudikannya sampai tahun 1935. Setelah itu bekerja sebagai wartawan khas untuk harian Warta Melayu yang terbit di Singapura.

Pada tahun 1936 pindah ke Singapura, namun tetap bekerja pada harian tersebut. Dalam harian inilah ditunjukannya bahwa ia sebagai wartawan Melayu dapat memberitakan masaah-masalah yang hangat dan penting. Kemudia ia diangkat jadi kepala pengarang pada harian tersebut dan juga pada mingguan yang terbit dari usaha harian itu, yakni Warta Ahad dan Warta Jenaka.

Pada tanggal 29 Mei 1949 terbitlah harian Utusan Melayu yang membawa rasa kebanggaan yang lebih kuat. Harian ini diterbitkan oleh karena dorongan rasa kebangsaan yang timbul. Oleh dorongan rasa kebangsaan ini pula Abdul Rahim Kajai kemudian pindah bekerja pada harian tersebut dan diangkat jadi kepala pengarang. Surat Kabar ini ternyata mendapat sambutan yang luas sehingga dapat menerbitkan majalah lagi yaitu Utusan Zaman dan Mustika.waktu pecah perang Pasifik ia kembali ke Kuala Lumpur untuk mengantarkan keluarganya. Setelah Jepang dapat menguasai seluruh Malaya, Singapura dan Indonesia, maka Jepang mengadakan Persidangan Wartawan Seluruh Sumatera dan Malaya di Singapura pada 7 Desember 1942. Kajai dijemput ke persidangan tersebut untuk jadi juru bicara pada wartawan.

Setelah musyawarah wartawan itu, ia diangkat menjadi kepala pengarang Berita Malai yang diterbitkan di Singapura dan Malai Sinbun Sha. Surat Kabar itu mulai terbit 1 Januari 1943. Sebagai sastrawan, Kajai mulai karirnya dengan menerbitkan roman saduran yang berjudul Cherita Dzu'l Ruhain yang terdiri dari tiga jilid sebanyak 540 halaman dan terdiri dari enam seri roman. Roman ini terbit berturut-turut antara tahun 1930 dan 1931. Tapi rupanya roman ini kurang mendapat sambutan.

Ternyata sebagai pengarang cerpen ia berhasil, yaitu saat bekerja pada harian Warta Malaya dengan mingguan Warta Ahad dan Warta Jenaka. Pada majalah inilah dimasukannya cerpen dalam ruang Cherita Kita, hingga pada tahun 1939 jumlahnya ada tiga puluh enam buah. 

Pada waktu itu umumnya pengarang cerpen belum dianggap sebagai seorang sastrawan. Cepern Kajai umumnya bersifat didaktik. Selain itu Kajai juga mengarang cerita-cerita lucu terutama setelah ia bekerja pada Mingguan Warta Jenaka  dan Utusan Zaman dalam ruang Pak Kodok dan Wak Ketok. Ruang ini sangat terkenal. Karena cerpen pada waktu itu belum dikenal, maka pengakuan terhadap Kajai sebagai pelopor cerpen lahir jauh setelah ia meninggal.

Abdul Rahim Kajai meninggal pada zaman Jepang di Singapura karena sakit yang dideritanya. Karya-karyanya semasa hidup : Cherita Dzu'l Ruhain, Paduan Wartawan, Pusaka Kajai, Banyak Udang Banyak Garam.

Rabu, 01 September 2010

Abdomen


Abdomen, nouns, is a cavity on the bodies of animals or humans that contain most of the digestive cavity, such as the abdomen of insects and the human abdomen.

Abdomen


Abdomen, nouns, is a cavity on the bodies of animals or humans that contain most of the digestive cavity, such as the abdomen of insects and the human abdomen.

Abdomen

Abdomen, kata benda, merupakan rongga pada tubuh hewan atau manusia yang berisi sebagian besar rongga pencerna; misalnya abdomen insekta dan abdomen manusia.

Abdomen

Abdomen, kata benda, merupakan rongga pada tubuh hewan atau manusia yang berisi sebagian besar rongga pencerna; misalnya abdomen insekta dan abdomen manusia.